Tampilkan postingan dengan label Tentang Semangat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Semangat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 September 2015

Awal Skripsi

Akhir-akhir ini kesibukan saya adalah skripsi. Sejauh ini yang telah selesai adalah bab 1. Sebenarnya bisa saja bab 2 selesai namun karena harus ganti topik saya memulai dari awal lagi demi menghindari resiko buntu di tengah jalan. Semester ini hanya ada sedikit kuliah karena saya selalu mengambil jatah di setiap semester sehingga hanya tersisa dua mata kuliah yang kegiatannya di dalam kelas. Dua lainnya adalah magang yang telah selesai itu dan skripsi sekarang ini. Karena hanya ke kampus dua kali seminggu, jadinya saya sering pulang ke rumah karena sedikit aktivitas yang dapat dilakukan di kos. Meskipun kos saya menyediakan wifi yang super cepat, namun setiap akhir pekan rasanya selalu ingin pulang. 

Di rumah sekarang kami mememelihara kucing yang diberi nama Kiwa oleh bulek saya dan kucing ini menggemaskan. Setiap kali sudah di Malang untuk beberapa waktu lamanya biasanya saya akan kangen sendiri dengan kucing ini. Jadi mungkin Kiwa adalah alasan besar mengapa saya kangen untuk pulang setiap akhir pekan. Alasan kedua adalah ingin makan dengan layak, hehe. Bukan bermaksud mengatakan saya tidak makan layak setiap harinya di kos-kosan, namun rasanya masakan desa lebih lezat daripada yang dijual di warung manapun di Malang. Selain itu, disini saya tak perlu mengeluarkan uang banyak ketika ingin membeli makanan di warung yang enak. Alasan selanjutnya mungkin adalah ingin melihat seseorang di gereja sore di paroki Blitar. Jadi setiap Sabtu sore saya sengaja jauh-jauh ke gereja (istilahnya) pusat di Blitar. Saya lebih suka ibadah sore daripada pagi, jadi saya harus ikut ibadah disana. Seperti biasanya, saya duduk di deret belakang kanan, dan biasanya pula ia di deret kiri agak ke depan. Hari ini saya melihatnya sudah berbeda. Rambutnya pendek kira-kira sebahu dan diikat; membuatnya tampak lebih ceria dan lincah. Ini adalah gadis yang sama seperti yang saya share di posting lain dahulu dan mungkin tampak seperti ironi, bagaimana saya tak kunjung berkenalan dengannya. Namun, bukannya tidak berusaha, tapi karena saya bulan-bulan terakhir lebih sering di Malang ketika akhir pekan, jadi perlahan pada akhirnya lupa sendiri akan hal ini. Hari ini, saya kembali terkesan dan akan memikirkan hal terbaik yang harus saya lakukan kedepannya. 

Jumat, 21 Agustus 2015

Saudara

Pagi ini saya dilanda kebingungan. Setelah mandi dan menyiapkan makanan untuk hari ini, saya tak tertarik melakukan apapun. Maunya mengerjakan laporan magang, tapi tidak ada mood yang baik untuk itu. Kalau sudah kebingungan seperti ini biasanya ujungnya adalah kesepian, dan begitulah jadinya tadi pagi. Saya bingung hendak pergi kemana. Akhirnya, sebuah pikiran yang tak terduga muncul, yaitu mengunjungi rumah retret di Jedong, Malang. Tujuan utamanya adalah bertemu dengan pak Salome. Ia adalah orang yang banyak membantu dan berjasa pada waktu saya tinggal disana. Ia adalah kawan yang baik dan berjiwa muda serta ramah. Keluarga pak Salome sudah menganggap saya seperti saudara sendiri. Sayapun demikian juga. Maka, rasanya sungkan sekali apabila lama tidak menjumpai mereka semua.
Siang ini, saya disana terus dari jam 11 hingga jam 5. Selain pak Salome, saya juga bertemu karyawan-karyawan lain yang dulu juga sering membantu saya. Menggembirakan, demikianlah kesannya. Saya telah mengenal orang-orang baik di Malang ini, yang sudah menganggap saya bagian dari keluarga mereka. Maka, sangat menyenangkan bisa berkunjung dan bertemu dengan mereka semua. Saya tidak akan melupakan mereka semua dan akan terus berkunjung, sebab sekarang mereka adalah saudara.

Lagu Memorable

"Tiada nada, tiada suara
mampu mengungkapkan rasa
bahagia tak terkira
Tiada sungai, tiada samudera
mampu tandingi agung cinta-Mu
lembut hatimu ubah hidupku"

Ini adalah salah satu lagu kesukaan saya. Judulnya adalah "Karena Aku Kau Cinta." Lagu ini selalu membuat saya teringat akan momen bahagia ketika masih di asrama bersama teman-teman. Dulu, saya sering menyanyikan lagu ini ketika ikut bertugas paduan suara. Itu adalah masa yang sangat membahagiakan. Bagi saya lagu ini adalah sebuah ungkapan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati itu sendiri adalah sukacita bersama orang-orang yang saya cintai, keberhasilan melewati tantangan besar, dan kedamaian hati karena dekat dengan Tuhan. Setiapkali saya menyanyikan lagu ini, momennya selalu pas, yakni ketika saya berkumpul dengan para sahabat, ketika sudah lulus, dan pada hari-hari yang penuh dengan berbagai event dan perayaan besar. Lagu ini benar-benar memorable!

Minggu, 14 September 2014

Pikiran Tenang

Tiga hari yang mengesankan di rumah telah berlalu. Saya kini berada di kost lagi. Ada sebuah kabar gembira. Hari esok mungkin akan lebih ringan karena absennya seorang dosen galak dan cerewet yang suka memaki mahasiswa-mahasiswinya. Namun diatas semua ini saya bahagia karena telah berkesempatan pulang ke rumah dan merasakan tenangnya suasana hidup. 
Tiga hari saya dapat tidur dengan suasana hening, berdoa dalam silentium, dan melakukan aktivitas-aktivitas yang menyegarkan pikiran, tanpa sekalipun teringat akan tugas. Hal ini terasa seperti pembaharuan hidup.
Sore ini saya kembali ke Malang. Ketika mampir di toko alat tulis depan sekolah saya dulu untuk membeli beberapa kertas, saya berjumpa Gabriel Rio Emar, seorang adik kelas dari Kupang yang kini sudah menjadi misionaris dan diutus. Kami mengobrol sebentar, karena ia kelihatan agak terburu-buru. Saya menitipkan salam kepada Alfredo dan Evam, dua adik kelas yang sudah sejak dulu saya beri respect. Syukurlah mereka berdua melanjutkan pembinaan ke jenjang atas dan meneruskan panggilan imamat.
Perjumpaan kecil itu tadi membawa semangat dan rasa bangga di hati, apalagi ketika melihat gedung sekolah dari jauh. Masih seperti dulu. Bangunan tua bergaya arsitektur belanda. Megah. Di dalamnya telah tersimpan kenangan-kenangan di masa pembinaan. Di balik gedung berhiaskan sinar remang-remang matahari senja tersimpan jejak orang-orang hebat dan para sahabat.
Dalam pesona yang sedemikian indah, saya hampir lupa harus kembali ke Malang. Rasanya seperti masih menjadi bagian dari komunitas orang-orang terpanggil itu. Dengan suasana hati yang penuh kegembiraan, saya beranjak pergi. Rio melambaikan tangan selagi berjalan memasuki gerbang Vincentius. Saya membalasnya, dan melaju dengan semangat meninggalkan sore yang indah menuju kota Malang yang siap menanti saya dengan tanggungjawab-tanggungjawab dan tugas.

Kamis, 10 Juli 2014

Country Roads, Take Me Home

Country roads, take me home
To the place where I belong:
West Virginia, mountain momma,
Take me home, country roads.


Jalan-jalan desa yang indah
bimbinglah seorang yang pulang
tuntunlah menuju sumber air
lewat padang-padang berbunga
lewat ladang leluhur yang hijau
serta bawalah ke gubuk
ke istana kecil penuh kedamaian


Sebuah bait berbahasa Inggris diatas adalah lirik lagu Take Me Home Country Road karya John Denver. Mungkin anda tidak asing dengan John Denver; ia adalah pencipta lagu Leaving on A Jet Plane yang sangat populer itu. Lagu ini salah satu yang paling saya sukai untuk mengiringi perjalanan saya pulang dari suatu tempat ke kampung halaman. Lagunya enak! Merdu sekali dan mengena, anda patut mencobanya!
Nah, bait dibawahnya adalah ungkapan untuk setiap kepulangan saya. Selalu ada kerinduan setiapkali tidak berada di kampung halaman untuk beberapa waktu lamanya; kerinduan akan gubuk-gubuk di tengah sawah hijau membentang, belik (sumber air), serta saudara-saudara di sana. Hmm, padahal masih mahasiswa. Nanti kalau semisal sudah bekerja di tempat yang jauh dari rumah, saya tidak mungkin terus menerus larut dalam kerinduan. Namun diatas semua itu, kerinduan tersebut adalah suatu penyemangat, yang keberadaannya memberikan harapan serta menyimpan kedamaian hati; sebuah tempat yang menjanjikan peristirahatan nyaman.

Second Home Dempo

Besok adik saya sudah mulai menjalani pembinaan awal di SMA St. Albertus (Dempo) Malang. Saya sedikit ikut disibukkan oleh hal ini, karena adik masih butuh diantar. Karena 'keterlibatan' kecil ini, saya jadi mengenal lebih mengenai sekolah itu. Karena telah mengenal lebih baik, saya jadi bangga adik bisa sekolah disitu, dan berharap bisa menjalani pembinaannya dengan baik hingga lulus. Nah, kini saya bersemangat untuk membantu adik saya menggapai impiannya; sebab impian yang gemerlapan itu nanti akan mewujudkan terang bagi keluarga kami.
Ohya, kenapa kok judulnya 'Second Home Dempo'? Ini karena (mungkin) tema MOS kali ini demikian, sebagaimana saya temukan di beberapa lembar tentang MOS tahun ajaran baru 2014. Hubungannya dengan rasa bangga saya akan adik adalah bahwa saya yakin Dempo adalah tempat yang baik untuknya berkembang, sebagai remaja, sebagai pelajar, dan sebagai pengejar impian. Membaca sharing-sharing dari beberapa alumnus meyakinkan saya bahwa di Dempo, adik saya akan menemukan zona persahabatan yang membuatnya kerasan seperti tinggal di rumah sendiri, serta bersemangat dalam aktualisasi diri sebagai insan pembelajar.

Senin, 16 Juni 2014

Happy Father's Day!

Hari ini hari ayah. Berbahagialah para ayah, dimanapun mereka berada!

Saya sangat respect pada sosok ayah. Siapapun, entah kenal atau tidak, jika bertemu, akan selalu mendapat hormat saya dari dalam hati. Ada banyak hal yang menyebabkan saya seperti ini, mulai dari terinspirasi sifat kepahlawanan ayah saya sendiri, kisah-kisah ayah dari beberapa kawan yang menceritakannya, serta kepahlawanan ayah dalam kisah-kisah nyata kehidupan dan cerita-cerita di dalam film. Mereka semua sangat menginspirasi. Saya sangat menghormati mereka.

Untuk hari ini, semoga para bapak mendapat berkah serta rahmat keteguhan supaya semakin mantap dalam tugas hidupnya!

Senin, 12 Mei 2014

Saya Dan Liverpool

Saya cinta Liverpool!
Pagi ini saya mendapati berita Manchester City menjuarai liga Inggris. Liverpool ada di peringkat dua. Tidak ada kekecewaan dari saya, tetapi justru saya semakin cinta Liverpool. Ada sensasi tersendiri mendukung tim yang sulit juara. Ada sensasi tersendiri mendukung kuda hitam. Mendukung Liverpool selama 9 tahun kiranya adalah gambaran perjalanan hidup yang penuh liku. Liverpool mengejar impiannya meraih kemenangan cemerlang yang telah diidam-idamkan sejak masa yang lama. Liverpool bermimpi mengembalikan kejayaan di masa lampau. Sayapun demikian. Saya sedang mengejar impian saya yang gemilang yang saya idam-idamkan semenjak saya mengenal apa arti dari mimpi itu sendiri. Kerinduan yang samapun juga saya rasakan; sebuah kerinduan tentang kebahagiaan sempurna mewarnai gemerlapnya impian di dalam hati.

Senin, 05 Mei 2014

Hari Ini: Semangat! Lalala Life Goes On...

Hari ini sangat menginspirasi! 
Dulu saya berkenalan dengan seorang petualang, yang merupakan seorang wirausahawan yang menghabiskan sebagian besar waktunya berkelana dengan motor CB antiknya. Penampilannya acak-acakan. Kepalanya botak, dihiasi kumis dan jamban yang sangat kontras dengan warna kulitnya. Caranya berpakaian seperti penampilan koboi. Ia, menurut saya betul-betul seperti pengelana. Orang tak akan mengira ia seorang wirausahawan yang cukup sukses jika hanya melihat penampilannya. Ia sendiri orangnya sangat ramah. Dalam setiap persinggahan, pasti ada orang baru yang dia kenal, atau semakin banyak kenalan. Saya sendiri mengenalnya kala ia dan geng motornya singgah di komplek area kost saya, di Khalwat Betlehem Malang. Dulu ia bertanya banyak hal mengenai kawasan ini pada saya. Kemudian, hari ini, saya bertemu lagi dengannya. Ia datang untuk memesan tempat untuk kegiatan retret. Penampilannya sudah berubah seratus delapanpuluh derajat. Ia tak lagi mengenakan pakaian ala pengembara, dan tak lagi mengendarai CB, melainkan mobil. Kepalanya tetap botak, namun kini lebih mirip Bruce Willis karena ia mengenakan pakaian serba rapi nan keren. Ketika saya tanya mengapa kok sekarang berubah, ia menjawab, katanya ia sudah puas (bahasa jawanya tuwuk) berkelana mengunjungi banyak tempat. Semua gejolak jiwa mudanya sudah tertuang. Kini, katanya, segala keinginan masa mudanya sudah terwujud dan kini saatnya memulai kehidupan yang baru baginya. Ia sudah menikah, mungkin baru-baru ini, dan tadi isteri dan beberapa temannya ada bersamanya.
Hal ini sangat menginspirasi bagi saya. Kehidupan yang indah adalah kehidupan penuh petualangan. Saya ingin bertualang sepertinya. Bertualang ke tempat yang jauh dan meluapkan mimpi-mimpi dan gejolak muda.

Minggu, 04 Mei 2014

Tentang Harapan

Harapan ialah sesuatu dengan sayap
yang bertengger di jiwa
dan menyanyikan nada tanpa kata
dan tak pernah berhenti
-Hope Is The Thing with Feather oleh Emily Dickinson
Kira-kira begitulah saya menerjemahkan satu bait puisi karya pujangga sangar ini.
Hari ini, saya merenungkan kembali tentang harapan, dan seketika teringat akan bait puisi diatas. Jadi dalam permenungan tadi, saya menyadari bahwa harapan adalah sesuatu dengan sayap yang bisa terbang kapan saja meninggalkan si pengharap. Hmm. Shame! Kasihan! Inilah realita.
Harapan seringkali muncul seperti cahaya yang menghangatkan jiwa. Perasaan menjadi damai dan tenteram kala kegelapan (kegelisahan) di dalam sanubari lenyap. Namun sayang sekali, cahaya ini tidak bisa lama-lama tinggal. Suatu ketika, harapan akan pergi meninggalkan kita. 
Saya berharap memiliki sesuatu, suatu hal yang indah, menyenangkan, dan mendamaikan. Ketika kemungkinan-kemungkinan untuk memiliki hal itu datang, saya bahagia. Harapan telah datang! Namun, terkadang tidak lama setelah saya mempersiapkan sesuatu untuk meraih hal itu, harapan meninggalkan saya. Suara kepakan sayap yang pergi menjauh seketika memadamkan keceriaan, menimbulkan kegelisahan.
Lantas bagaimana agar semangat tak pernah putus meskipun kita ditinggal harapan? Well, solusi terbaik adalah terus berharap. Jika satu harapan pergi, berharap lagi pada harapan itu atau harapan yang lain. Karena harapan adalah cahaya untuk jiwa, maka, menurut saya, hati kita harus terisi dengan harapan agar sinar keceriaan menguasai lorong-lorong jiwa dan menyingkirkan kesedihan dan keputusasaan. 
Baik, selamat malam. Selamat berharap!

Sabtu, 26 April 2014

Malam Kemarin Usai

Usai sudah serangkaian acara pesta ulang tahun jurusan semalam. Sebelumnya, pikiran masih dipenuhi dengan bayang-bayang akan acaranya.
Saya berserta kawan-kawan ikut menjadi pengisi acara. Kami ngeband, dengan hanya satu lagu dari Radiohead, Creep. Pada hari-hari sebelumnya, kami latihan setelah pulang kuliah. Saat itu ada banyak hal di dalam kepala saya, mulai dari gugup karena ancaman dari seorang pembawa acara*, tugas-tugas dan presentasi menumpuk, hingga gugup karena belum pernah tampil di acara-acara jurusan, apalagi EDA (English Department Anniversary). Namun, di tengah jenuhnya pikiran itu, saya senang karena kehadiran seseorang.
Tidak enak rasanya menyebut nama-nama bunga itu lagi. Kini saya menegaskan diri, untuk dia yang saya maksud. Mungkin engkau perlu sedikit tahu; saya dan dia hari-hari ini sering bercandaan gombal-gombalan. Dia yang mengawalinya, mungkin sejak beberapa bulan yang lalu. Hingga kini, candaan-candaan itu malah kelihatan seperti curhat pikiran. Ah, ini hanya firasat kok. Atau bisa jadi sungguhan? Kata beberapa kawan, ia memang sengaja demikian karena memang benar-benar suka. 
Tidak ada yang pasti memang, kecuali pesonanya yang terus bertumbuh, menjadi lebih indah hari ke hari. Keindahannya membawa rasa damai di hati. Kekonyolan tingkah laku dan suara serta tawanya yang melengking memberikan suatu nuansa keceriaan yang unik; keceriaan yang penuh!

Selasa, 01 April 2014

Casablanca Again

 Minggu ini ada banyak tugas dan presentasi. Ada banyak hal yang harus diselesaikan. Saya harus menulis essai berisi minimal 1700 kata, presentasi di hari Rabu dan Jum'at, menyelesaikan karya puisi, dan mengerjakan kira-kira dua tugas dari dua mata kuliah berbeda. Saat menulis posting kali ini pun pikiran saya tidak sepenuhnya tenang. Dengan bantuan secangkir kopi hitam, pisang goreng, dan iringan instrumen Ballad Pour Adeline, saya bisa rileks sedikit. Ohya, semangat juga datang karena tidak lama tadi saya melihat foto-foto Casablanca; foto-foto saat ia jalan-jalan bersama sahabat-sahabatnya.
Casablanca menawan sejak dunia memperlihatkan dia kepada saya, semenjak masa ospek fakultas dan universitas. Kami berkenalan, kemudian seterusnya hanya berkomunikasi lewat pesan, dan itupun jarang. Kadang-kadang, kami bertemu langsung; di parkiran, di halaman gedung D, di lantai satu gedung Q3, dan di jalan, meskipun semua ini sangat jarang. Satu pertemuan seringkali membuat saya amat senang.
Ia kini aktif berorganisasi, sementara saya tidak ikut kegiatan apa-apa di kampus demi menekuni sesuatu. Saya sendiri tidak suka ikut organisasi. Maka, ya ini resikonya, saya jadi tak punya kesempatan untuk menjadi salah satu bagian dari hari-harinya. Ah, sekali lagi; karena perasaan tak punya apa-apa, saya tak ada cukup nyali untuk melakukan sesuatu untuk hal ini. It's just like Ebiet G Ade's song.
Hmm, saya pikir ini cukup sampai sekian. Ternyata waktu berlalu cepat sekali. Lima lagu sudah berlalu. Forever in Love mulai sampai pada nada-nada penutup. Saya kembali kepada tugas-tugas. Goodbye!!!
God bless You!

Senin, 17 Maret 2014

Ah, Rose!

Ah, Rose!! Today my secret was revealed. Entah bagaimana hari ini rahasia saya terbongkar. Memang, saya tak pernah berhasil menyimpan rahasia dari kawan-kawan saya. Selalu terbongkar, karena keterlalu-bukaan saya sendiri. Hmm. Rose! Saya memang tidak memberitahukan ini pada orang lain karena tidak mau dapat cap playboy. Bukan. Bukan. Saya bukan playboy. Saya kan jomblo. Saya mengasihi, tidak mempermainkan hati mereka. 
Dalam sebuah momen hari ini, saya diminta menuliskan dua nama wanita yang saat ini di hati. Saya menulis Casablanca dan Rose. (Hmm. Lama-lama saya merasa aneh menyebut nama samaran). Somehow, I did not care my paper, then everybody knows what is written on it. Hmm, begitulah.
Namun, di atas semua ini, satu hal terpenting dalam hidup saat ini adalah kehadiran kawan-kawan itu sendiri. Kawan-kawan saya tahu, saya mengharapkan siapa. Ini menjadi semangat bagi saya pribadi; semangat untuk bekerja keras untuk sukses dan mendapatkan apa yang telah diharapkan sejak saat ini. 

Hai Rose, engkau sangat menyenangkan! Keramahanmu adalah semerbak wangi kesegaran pagi hari. Tawamu melengking bagai nada-nada tinggi pada seruling bambu. Merah di rambutmu sangat liar, seliar tumbuhan putri malu, namun begitu murni, semurni embun. Bersinarlah selalu, untuk para pengagummu, dan untukku!

The Top of The Wish List

Usually, it is not easy to get what we desire. We dream, and then we must deal with any possibility that obstruct us to get the dream itself. There is always something to fight. There will always be some problems. We must go ahead and chase after the dream; then, it usually ends with happiness if we can deal with the obstructions.
Biasanya, ketika kita menginginkan sesuatu, kita harus bersabar, karena hidup tidaklah serba instant. Kita bermimpi dan harus dapat mengatasi halangan-halangan yang ada. Selalu ada sesuatu untuk diperangi. Akan selalu ada beberapa masalah. Kita harus terus maju untuk mengejar sang mimpi; biasanya, ini akan berakhir dengan kebahagiaan jika kita berkomitmen dan menyikapi segala rintangan yang ada.
Saat ini, saya sedang menginginkan sebuah ponsel baru. Satu wish yang sudah dipertimbangkan dalam hal harga dan prioritas kegunaan. Targetnya sebenarnya bulan ini seharusnya saya sudah menggenggamnya, sesuai rencana. Namun, karena kebutuhan-kebutuhan mendadak seperti mengganti ban bocor sepeda motor, kehabisan uang saku, membeli buku, fotokopi, dan sebangsanya, saya harus menunda keberhasilan mencapai rencana ini. Mau bagaimana lagi, namanya urusan mendadak. Ini resiko bermimpi; seperti postingan Stanlee. Sayapun kini tertuntut untuk lebih baik lagi dalam memanage keuangan. Ini hanyalah ponsel; hal kecil dalam kehidupan yang luas dengan berbagai aspek ini. Berusaha untuk punya ponsel baru: latihan untuk mencapai mimpi yang lebih besar. 

Berlatihlah mengejar impian, kawan!!

Minggu, 16 Maret 2014

Bekerja Keras untuk Cinta

"That is why I work very hard to be strong. It's very hard indeed! But, I am very pleased to shop with my own money. Then, when I feel strong enough, I will tell that to the one I love: Hey, I am ready for true love!"

"Itulah sebabnya aku bekerja keras supaya menjadi kuat. Memang, terkadang itu sangat berat. Namun, aku sangat menikmati berbelanja dengan hasil jerih payah sendiri. Dan, jika aku merasa sudah cukup kuat, akan kukatakan pada orang yang aku cintai: Hei, aku sudah siap untuk cinta sejati!"

 Itu adalah kutipan dari film "Finding Mr. Right." Singkat saja, saya sekarang juga sedang bekerja keras seperti tokoh yang mengatakan hal diatas. Saya mencintai seseorang, namun tak ingin mengatakannya hingga saya sudah kuat. Kuat dalam kehidupan ini. Saya bekerja keras untuk hal ini, di tengah kehidupan yang dinamis dan keadaan keluarga; saya siap untuk melalui semuanya demi kebahagiaan sempurna di akhir. Ketika saya sudah mencapai tahap tertentu, ketika saya berhasil, saya akan datang untuknya; untuk cinta.

Untuk engkau, pembaca, yang barangkali juga sedang bekerja keras dalam kehidupan ini agar bisa merasa pantas dan siap mengatakan cinta pada orang yang selama ini menjadi idaman; semoga Tuhan menyertai usahamu! Goodbye (God be with You!!)

Sabtu, 15 Februari 2014

Semangat

'To be what I am supposed to be," demikianlah mentalitas dan spiritualitas saya saat ini. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai hal-hal besar. Kini saatnya saya berlari untuk lebih dekat dengan impian-impian yang masih hanya bisa dinikmati dalam angan. Saatnya dengan perlahan meraih kehidupan yang cerah dan damai. Saatnya memberikan sapaan lebih kepada orang-orang terkasih; keluarga. Kini sudah waktunya untuk mengejar cinta dan keluar dari zona keraguan untuk mengungkapkannya. Tentu saya tak akan membiarkan lagi rasa cinta dan kasih dikorbankan lagi oleh keraguan untuk mengungkapkan. Sudah saatnya kini untuk membuat hidup ini lebih cerah!

Senin, 03 Februari 2014

Tentang Sapaan

Orang akan mengirim pesan apabila sedang rindu karena jarang berjumpa dengan seseorang. Ini merupakan salah satu bentuk sayang dan rasa 'care' seseorang kepada yang lain. Seperti Lukman Sardi yang selalu menjaga kontak dengan orang-orang tercintanya meski terpisah jauh; demikian juga saya sesekali menyapa kawan, keluarga, dan orang yang saya sukai ketika sedang rindu. Senang sekali rasanya mendapati seorang sobat membalas sapaan rindu dengan candaan lepas gaya lama. Bagaimanapun, biasanya, kawan-kawan saya selalu menyapa terlebih dahulu.
Contohnya adalah percakapan sms ini:
 Sta: "No sempak kamu berapa?"
Saya: "Salah sms to Sta?"
Sta: "Wkwkw, gak sep pancen iseng ae"
Saya: "Nomor sempakku wis nggak ketok Stan, wis jebol bolong bolong soale"
Sta: "Hahahahaha...wkwkkw....   Sep, awakmu ndek Blitar to? yak apa kabare??"
dan seterusnya. Demikianlah; terkadang pesan pesan semacam ini membuat saya kaget. Ketika sedang khusuk-khusuknya beribadah, tiba-tiba ada pesan-pesan berisi sempak muncul di layar ponsel. Begitu mengejutkan; namun membahagiakan karena dari sahabat. Sapaan dari kawan-kawan dekat selalu menciptakan suasana baru di hati saya. Mereka adalah salah satu alasan penting mengapa saya bersyukur atas hidup ini.
Disamping kawan, senang juga rasanya ketika seseorang yang saya cintai menyapa balik dengan sejuta keramahan. Saya tak begitu kreatif dalam mengungkapkan rasa perhatian. Menanyakan kabar sekiranya adalah hal terbaik yang saya bisa lakukan. Namun sayang, saya perlahan menyandarkan harapan akan dia yang selama ini saya kejar. Untuk suatu alasan yang berhubungan dengan percakapan, saya urungkan niat saya. Maka hiduppun berlanjut dan rasa sedih akan sendirinya tergusur oleh kebahagiaan memiliki teman-teman baik sehari-hari. Urusan cinta memang sulit. Lantas apa yang saya lakukan? Pak Nasrul, satu-satunya dosen saya yang berambut gondrong dan awesome berkata "biarkanlah itu terbuka." So, jadi, biarkanlah pertanyaan-pertanyaan akan misteri kehidupan ini terbuka; biarkanlah waktu menjemput keajaiban dan keindahan yang tersimpan di masa yang akan datang, yang kita tidak tahu dimana dan kapan. Just enjoy life, do not be afraid; don't worry! But, do not waste your time by not doing any struggle! Keep awesome and cool!
Sekian, terimakasih!

Rabu, 29 Januari 2014

Hari Semangat

Hari ini penuh semangat. Semua diiawali dengan semangat karena kemenangan Liverpool. Selanjutnya, saya bersemangat karena lagu "You Will Never Walk Alone." Setelah itu, banyak rangkaian peristiwa berkesan yang membuat hari ini terasa panjang.

Kamis, 23 Januari 2014

Greeting from Mr. Johannes

Tiga posting dalam semalam. Hmm, saya merasa sedang berada dalam mode rajin dan inspiratif. Baiklah, sambil menunggu kawan saya selesai dengan tugasnya, saya akan bercerita tentang awal hari ini. Pagi hari adalah jam favorit saya. Kelas pak Johannes; Dr. Johannes Ananto Prayogo, Ph.d lebih tepatnya, selalu berlalu dengan banyak kesan. Saya sangat senang, karena beliau juga selalu inspiratif. Beliau selalu menekankan supaya kami (kaum muda) harus berpikir modern, nasionalis, rasional; supaya masa depan dan hidup tak sia-sia karena menjadi orang tidak berguna. Ada banyak kesan sebenarnya, tetapi saya lupa beberapa karena sudah merasuk dalam hati, hehe. Yang paling saya ingat malah cerita tentang pertemuan beliau dengan istrinya ketika masih kuliah di IKIP Malang, atau UM, almamater tercinta saya ini **(Lho kok yang ini? Ya, karena memang yang ini yang dapat membuat saya bersemangat.) Setelah mendengar ceritanya, saya langsung menghubungkan pengalaman saya sendiri. Hmm, pak Johannes menemukan orang yang paling dicintainya di kampus ini, di jurusannya, di kelasnya; jadi, ini bisa jadi contoh baik. Bila saya mendapatkan 'si dia' yang selama ini saya kagumi, saya bisa seperti pak Jo. Semoga. Ya, itulah harapan saya. Semoga saya meraih hidup yang penuh arti seperti pak Johannes. Semoga engkau yang membaca ini kelak menjadi orang yang berguna dan berperan besar bagi kehidupan.

Senin, 20 Januari 2014

Lagu-lagu Saya


gitar di pojok ruangan
Good things happen when you least expect them. Sebuah pencerahan menggerakkan diri untuk membuat suatu karya. Saya tak begitu yakin sebenarnya, tetapi kemarin dua lagu tercipta di sela-sela jam istirahat. Hal ini menggembirakan hati sebab musik adalah apa yang selalu mengiringi hari-hari saya, dan akan sangat mengagumkan jika dapat menciptakan suatu lagu yang disukai orang. Jikalau hanya saya yang dapat menikmatinya, tak masalah, karena karya tersebut dapat bercerita banyak mengenai saya, untuk orang-orang yang saya cintai. Maka, menulis lagu kini menjadi opsi menyenangkan di waktu-waktu luang. Saya ingin menulis, namun bingung mau menulis apa. Menulis novel terlalu panjang. Menulis cerpen? Cerpen tak begitu menawan. Nah, dalam hal ini menulis lagu adalah yang paling menyenangkan. Akan ada kejutan-kejutan menarik ketika dapat menciptakan suatu rima di kala menulis syairnya. Sangat menyenangkan. Hanya ketidakpercayaan diri yang menghalangi saya untuk menyanyikannya, karena suara saya yang tak bagus. Mungkin suatu hari ada orang lain menyanyikan lagu yang saya ciptakan. Ya, mungkin suatu hari saya butuh vokalis. Vokalis perempuan? Mungkin. Karya-karya apapun nantinya, yang jelas semua adalah dedikasi saya sendiri untuk membuat hidup ini indah dan bermakna. Membuat hidup lebih berarti dengan membuat karya-karya.

Untuk pembaca, semoga engkau menjadi kebanggaan bagi orang-orang yang akan engkau cintai. Sampai jumpa, salam!