Tampilkan postingan dengan label Persahabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persahabatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 November 2015

Perkembangan Skripsi

Sekarang syukulah saya sudah sampai di bab III dan beruntung dosen saya adalah pembimbing skripsi terbaik yang menyediakan waktu beliau satu minggu sekali untuk konsultasi, berbeda dengan dosen lain yang pada umumnya dua minggu sekali. Selain dalam hal pertemuan, dosen pembimbing saya tidak muluk-muluk. Bagi beliau, yang terpenting adalah statement of problems atau rumusan masalah yang jelas dan teori yang tersedia untuk pembahasannya. Semenjak berganti topik, sejauh ini skripsi lancar dan hanya disertai sedikit kendala. Saya mengerjakan skripsi di rumah akhir-akhir ini. Sebelum hari-hari belakangan ini, udara di Malang panas sekali dan mandi sore di kos saya tidak enak rasanya karena air dari bak penampung di atap kos tidak segar setelah terjemur dibawah matahari berjam-jam. Selain hal ini, kamar kos saya berlokasi paling depan jadi efek panasnya paling terasa. Karena hal ini saya lebih suka mengerjakan skripsi di rumah dan pulang kampung setiap minggunya. Namun, syukurlah sekarang di Malang sudah hujan; menurut saya hujan ini mengembalikan Malang jadi indah dan nyaman seperti seharusnya. 

Dalam skripsi ini banyak teman yang tidak beruntung seperti saya, yang harus mengganti total topik dan mulai dari awal. Saya berusaha membantu mereka sebisa mungkin, mulai dari menunjukkan teori-teori yang saya tahu tentang topik mereka, memberi previous studies sebagai rujukan, hingga sekedar bertanya dan berniat memberi semangat. Syukurlah satu teman saya sudah (istilahnya) menemukan jalannya dan lancar mengerjakan bab demi bab. Namun, beberapa teman lain masih kurang beruntung. Saya terkadang menanyakan kabar perkembangan mereka dan senang apabila mereka sudah yakin dan berprogress. Namun apabila teman-teman ini stuck dan tersesat, saya turut bersusah hati, karena melihat betapa saya sekarang sudah lancar sedangkan teman-teman yang lain masih kesulitan. Saya hanya akan merasa betul betul berhasil apabila teman-teman yang kesulitan ini juga berhasil dan lulus di hari yang sama. Bagaimanapun, seperti kata seorang teman; kita harus pecaya dengan kemampuan teman-teman yang kita dukung, karena sesulit apapun, pasti ada pencerahan bagi mereka semua.

Jumat, 21 Agustus 2015

Saudara

Pagi ini saya dilanda kebingungan. Setelah mandi dan menyiapkan makanan untuk hari ini, saya tak tertarik melakukan apapun. Maunya mengerjakan laporan magang, tapi tidak ada mood yang baik untuk itu. Kalau sudah kebingungan seperti ini biasanya ujungnya adalah kesepian, dan begitulah jadinya tadi pagi. Saya bingung hendak pergi kemana. Akhirnya, sebuah pikiran yang tak terduga muncul, yaitu mengunjungi rumah retret di Jedong, Malang. Tujuan utamanya adalah bertemu dengan pak Salome. Ia adalah orang yang banyak membantu dan berjasa pada waktu saya tinggal disana. Ia adalah kawan yang baik dan berjiwa muda serta ramah. Keluarga pak Salome sudah menganggap saya seperti saudara sendiri. Sayapun demikian juga. Maka, rasanya sungkan sekali apabila lama tidak menjumpai mereka semua.
Siang ini, saya disana terus dari jam 11 hingga jam 5. Selain pak Salome, saya juga bertemu karyawan-karyawan lain yang dulu juga sering membantu saya. Menggembirakan, demikianlah kesannya. Saya telah mengenal orang-orang baik di Malang ini, yang sudah menganggap saya bagian dari keluarga mereka. Maka, sangat menyenangkan bisa berkunjung dan bertemu dengan mereka semua. Saya tidak akan melupakan mereka semua dan akan terus berkunjung, sebab sekarang mereka adalah saudara.

Lagu Memorable

"Tiada nada, tiada suara
mampu mengungkapkan rasa
bahagia tak terkira
Tiada sungai, tiada samudera
mampu tandingi agung cinta-Mu
lembut hatimu ubah hidupku"

Ini adalah salah satu lagu kesukaan saya. Judulnya adalah "Karena Aku Kau Cinta." Lagu ini selalu membuat saya teringat akan momen bahagia ketika masih di asrama bersama teman-teman. Dulu, saya sering menyanyikan lagu ini ketika ikut bertugas paduan suara. Itu adalah masa yang sangat membahagiakan. Bagi saya lagu ini adalah sebuah ungkapan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati itu sendiri adalah sukacita bersama orang-orang yang saya cintai, keberhasilan melewati tantangan besar, dan kedamaian hati karena dekat dengan Tuhan. Setiapkali saya menyanyikan lagu ini, momennya selalu pas, yakni ketika saya berkumpul dengan para sahabat, ketika sudah lulus, dan pada hari-hari yang penuh dengan berbagai event dan perayaan besar. Lagu ini benar-benar memorable!

Kamis, 20 Agustus 2015

Pindah Kos Lagi


Kos yang indah hancur dalam 3 hari
Saya pindah kos lagi. Kos yang nyaman dan tenang itu kini telah dibeli oleh seseorang pada awal lebaran lalu dan ia merubuhkan bangunannya bahkan ketika saya dan yang lainnya masih tinggal di tempat itu. Sebenarnya kami diberi waktu hingga tanggal 20 Agustus, namun pada tanggal 14 ia sudah menyuruh tukang-tukangnya membongkar bangunan itu. Setelah itu ia berkata bahwa tanggal 15 kos harus sudah kosong. Maka dengan bekerjasama dengan penghuni lain, cepat-cepat saya segera memindahkan barang-barang saya di kos yang baru. Kami menyewa kendaraan pick-up agar cepat dalam pindahan satu hari itu.
Malam-malam mengambil sisa-sisa barang yang ketinggalan.

Di malam-malam sebelumnya saya dan teman-teman kos sering berkumpul. Saya merasa senang bisa lebih akrab dengan mereka namun juga sedih karena akan berpisah dan tidak satu kos lagi.

 Kami semua sangat menyesali pemilik kos menjual tempat nyaman dan tenang itu. Kami juga jengkel dengan si pemilik baru yang seenaknya dan tidak menepati janji. Bagaimanapun, ia punya uang dan kuasa. Hal terbaik adalah pindah secepatnya agar terhindar dari suara-suara bising pembongkaran bangunan itu.

Sekarang saya tinggal di kos-kosan yang serumah dengan keluarga pemilik kos. Ini pertamakalinya saya ngekos seperti ini. Jadi, sekarang saya tidak sebebas dulu. Namun yang terpenting bagi saya adalah kenyamanan dan ketenangan dan kos ini sangat berpotensi untuk menjadi demikian.

Begitulah kawan! Memang seringkali peristiwa-peristiwa tak terduga datang menghampiri. Hal ini bisa menjadi sesuatu yang menyusahkan atau bisa juga menjadi kejutan yang membawa banyak kebaikan bagi kita.

Kamis, 26 Februari 2015

Tentang Orang Tua dan Sakit

"Apakah ini tentang bagaimana segala sesuatu melewati hidup? Siang dan malam, tanpa istirahat,"
(Confucius, Guru jarang mengerjakan, Bab 9 alinea 16).
Kutipan dari Confucius dalam buku yang saya pinjam dari seorang teman saya ini mungkin dapat mewakili apa yang saya dan keluarga alami akhir-akhir ini. 

Karena kesibukan kuliah dan urusan pribadi, saya sering melewatkan kesempatan berkumpul dengan kawan-kawan lama saya. Sekitar dua minggu yang lalu, di akhir pekan, ketika ada kesempatan menghabiskan waktu bersama mereka, saya justru sibuk di kampung halaman karena acara keluarga. Seminggu kemudian, saya tidak ada waktu lagi untuk weekend. Nenek saya sakit dan harus menjalani serangkaian proses medis yang serius. Tidak ada yang memberitahu tentang apa sakitnya, yang jelas beliau harus opname di RS Syaiful Anwar Malang, di tempat khusus pasien penyakit dalam, dua hari yang lalu. Semua anggota keluarga membantu semampu mereka, namun hanya bibi saya yang paling muda yang bisa menemani nenek saya selama masa perawatan karena disamping peraturan yang hanya memperbolehkan satu orang saja yang menjaga di luar jam besuk, bibi saya ini satu satunya yang tidak terikat rutinitas harian. Jadi selama ini ia menjaga nenek siang dan malam, namun di akhir pekan ini saya akan menggantikannya sampai hari Minggu agar ia dapat beristirahat dan menghirup udara segar. Sungguh, hari-hari ini terasa berat. Namun beruntung saya sudah presentasi proposal skripsi kemarin; beruntung juga, saya tidak memiliki job seperti teman-teman saya yang seluruh waktunya tersita hingga depresi sehingga saya punya cukup waktu untuk membantu keluarga saya, khususnya nenek.

Saya juga bersusah hati, sama dengan yang lain. Karena, sosok nenek saya ini bukanlah sosok seorang yang tua, yang hanya dikunjungi ketika liburan atau akhir pekan, namun lebih dari itu. Kehadiran beliau sama berartinya dengan kehadiran ibu. Dulu di SMA, nenek yang sering mengunjungi saya di asrama karena pada waktu itu ibu bekerja di Malang dan bapak saya, meskipun ada di kota ini tapi tidak pernah berkunjung. Jadi, sangat menyedihkan sekali melihat beliau tidak sehat dan aktif seperti biasanya. 

Saya membaca blog teman karib saya dan seorang teman lama. Mereka juga mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan seperti saya akhir-akhir ini. Ayah mereka juga sedang menderita sakit. Namun, salah satu dari orangtua kawan saya ini berada di luar kota dan lumayan jauh. Mungkin hari-hari ini juga berat bagi kawan ini. Saya turut bersedih atas apa yang ia alami akhir-akhir ini. Namun, saya harap hari-harinya tidak suram dan tidak seperti apa yang saya katakan "mungkin" tadi, melainkan tetap penuh berkah dan kebaikan. Saya berharap rahmat Tuhan selalu menyertai segalanya. Semoga rahmat kesembuhan berserta orang tua- orang tua kami yang sakit. Amin. 

 Demikianlah, kawan. Demikianlah bagaimana saya akhir-akhir ini. Merasa bersedih, ya, saya mengakuinya. Namun, hari-hari ini juga ada banyak anugerah yang saya terima. Ada banyak rasa syukur yang saya ucapkan setiapkali saya sembahyang. Semoga, siapa saja yang juga mengalami hal berat di saat ini juga menerima banyak berkah dan kebaikan seperti saya.

Sabtu, 01 November 2014

Short Break Bromo

Hari yang panjang. Badan terasa lelah sekali setelah seharian berpetualang. Ya, ini adalah sebuah petualangan. Karena medan yang sulit, hal-hal baru, dan pemandangan-pemandangan alam yang menakjubkan, kami menyebutnya petualangan.

Teman-teman berkumpul di kost saya karena menghindari gagal bangun karena alarm dan supaya bisa berangkat bersama. Kami berusaha memanfaatkan waktu yang sedikit untuk istirahat, namun beberapa harus terjaga terus karena tidak bisa tidur. Mendekati pukul dua, kami bersiap-siap dan berangkat menuju tempat berkumpul di dekat monumen patung pesawat, Soekarno-Hatta Malang. Setelah semua siap kami berangkat. Jalanan kota tampak sepi sekali, kecuali pasar Blimbing yang sudah ramai dengan pedagang-pedagang. Jalan kami masih mulus, belum ada tantangan samasekali sebelum memasuki area pedesaan dan pedalaman. Berkelok, kelok dan menanjak, serta curam; kami beberapakali mengalami kesulitan karena tingkat kemiringan yang ekstrim. Namun, yang terdepan selalu menunggu yang jauh di belakang agar tidak terpencar. Ohya, selain ekstrim, udaranya sangat sangat dingin sekali. Apes sekali bagi beberapa dari kami yang menjadi pengendara dan tidak memakai sarung tangan. Dalam hal ini saya sedikit mendapat bantuan dari selembar halaman Jawapos yang saya jadikan windbreaker, menutupi perut dan mencegah masuk angin. 
Sementara jalan terasa semakin menanjak, udara semakin terasa dingin. Berat, namun kami tetap semangat, dan semangat ini muncul dari sebuah pemandangan menakjubkan di atas langit. Dibawah naungan pohon-pohon, bintang-bintang di langit tampak begitu indah dan gemerlapan. "Rasanya seperti dekat sekali dengan Sang Pencipta," salah satu kawan berseru. Perjalanan semakin menantang, udara dingin semakin menyengat ke dalam, dan rombongan kami semakin bergembira untuk  segera menyambut fajar di Bromo. 
Sesampainya di daerah tengger, ada banyak hal unik, seperti orang-orang memakai selendang atau sarung dan berjalan menggendong keranjang, orang berkuda, dan wajah-wajah ramah penduduk lokal yang seolah tak terganggu dengan suara bising mesin motor kami. 
Setelah masuk pintu gerbang, jalan kami menjadi semakin sulit karena ini weekend dan banyak sekali orang di atas untuk melihat matahari terbit. Ada banyak sekali orang, baik bule, mahasiswa seperti kami, dan wisatawan lokal, sementara jalannya sempit dan ada banyak jeep diparkir di sepanjang jalan. Sulit dan berbahaya, pun demikian kami sampai di lokasi paling baik untuk menyaksikan Sunrise. Seperti orang pada umumnya, kami berfoto-foto hingga puas. 

Luas dan menakjubkan, bukan?
Amatir, hasil kamera ponsel
Dari kamera teman.

Terimakasih, kawan! Sayang sekali fotografer tidak ikutan.

Perjalanan Pulang
Kami pulang lewat Tumpang, sehingga harus melintasi lautan pasir dan mengelilingi dua gunung.  Di tempat itu, tantangan sebenarnya menanti. Pasir yang tebal membuat motor kami berulangkali hampir jatuh. Agak sulit bagi kami untuk menentukan arah, karena kendaraan-kendaraan yang menjadi patokan melaju sangat kencang sehingga tak terkejar. Untunglah tadi teknologi menolong kami. GPS dari tablet kawan kami menuntun perjalanan melewati hamparan pasir luas yang seperti tak berujung, melewati seorang pedagang minuman di tengah panasnya “gurun pasir” itu, melewati padang rumput kering yang hangus terbakar, melewati lembah hijau, hingga tanjakan-tanjakan curam dan berpasir. Pasir, badai pasir, dan tanjakan bepasir
, demikianlah tadi kami kesulitan. “Duh, aku kangen jalan beraspal, sep,” keluh seorang kawan  tadi. Sungguh berat memang, namun tadi juga ada keramahan-keramahan yang memberi semangat. Para pengendara kuda yang kami temui sepanjang jalan membalas sapaan kami dengan ramah, dan sesekali juga beberapa dari mereka menyapa lebih dulu. Mereka seperti menyertai jalan kami, hingga ke tanjakan akhir yang katanya adalah yang terberat. Dan.. sampailah kami di pos istirahat. Setelah menghabiskan beberapa menit di pos itu, kami pulang. Perjalanan pulang melewati jalan beraspal juga tak kalah menantang. Kami melawan rasa ngantuk dan terus berkonsentrasi sepanjang jalan.
Bentang alam menakjubkan, Indonesia!
Pada akhirnya, kami sampai. Beberapa kawan langsung menuju tempat mereka masing-masing, sementara dua kawan beristirahat di kost saya. Demikianlah; hari ini hari yang panjang, pun sangat menyenangkan. Saya tidak akan menolak untuk melakukan petualangan lainnya bersama kawan-kawan ini.




Harus berhati-hati ketika melepas helm atau masker karena
badai pasir datang tiba-tiba.

Luas membentang, indah pemandangan!
Dua kawan sedang bersusah payah melewati
hamparan pasir tebal yang sulit dilalui kendaraan bermotor.
Tampak pemandangan orang sedang mengendarai kuda di kejauhan.
Bagi mereka, lautan pasir tak menyulitkan samasekali, dan justru
dengan berkendara seperti itu mereka terlihat sangat menikmati,
meng-iming-imigi saya untuk naik kuda.













Sementara dua kawan lain
yang naik V-xion
tak terlalu susah melewati
medan yang
(kalau bahasa jawa
istilahnya) bledu.






Setengah perjalanan. Berapa lama
lagi? Tak tahu, yang jelas kita
harus memutari gunung-gunung.
Pengalaman pertama motor ini melewati medan berat adalah ketika menuju
lembah gunung Kelud. Namun saat itu yang dilewati adalah sungai dan
bebatuan. Kini, si motor harus melewati lautan pasir luas;
berulangkali terseok-seok, namun teman saya mulai terbiasa dengan medan
dan berkendara seperti orang-orang lokal. *Mereka melaju cepat sekali
sehingga tidak akan terseok-seok dan keseimbangannya terjaga.























Ohya, setelah meninggalkan Bromo, ada dua hal (pertanyaan) yang masih membuat saya heran dan bertanya-tanya. Pertama, saya heran dengan wanita yang berjualan di tengah padang pasir itu. Lho, bagaimana ya dia membawa barang-barang dagangannya? Apa diantar dan dijemput dengan sepeda motor atau jeep? Atau, apakah kalau sudah petang ia tinggalkan warung kecilnya itu dan pulang ke rumah? Ada banyak kemungkinan, saya tidak tahu. 
Yang kedua adalah bapak tukang bakso. Nahh.. ini nih. Darimana bapak ini berasal dan bagaimana bisa ia melewati medan berat yang kami lalui setelah berpapasan dengannya. Jalannya curam dan berpasir. Ini sulit sekali bahkan bagi motor yang tidak bermuatan selain pengendara sendiri. Kalau memang benar si tukang bakso melewati medan itu, wahh... sumpah itu keren banget! Namun, bagaimana nasib bakso dan mangkoknya? Haha, saya tidak tahu bagaimana, yang jelas akan nikmat sekali makan bakso setelah lelah melewati lautan pasir itu.

Tulisan saya kali ini mungkin ada banyak kesalahan dan minimnya variasi bahasa. Maklum, ya… karena saya sendiri sangat capek dan kurang berkonsentrasi juga karena ngantuk. Baik, sekian. Gracias multas! Terimakasih!
Salam!

Minggu, 14 September 2014

Pikiran Tenang

Tiga hari yang mengesankan di rumah telah berlalu. Saya kini berada di kost lagi. Ada sebuah kabar gembira. Hari esok mungkin akan lebih ringan karena absennya seorang dosen galak dan cerewet yang suka memaki mahasiswa-mahasiswinya. Namun diatas semua ini saya bahagia karena telah berkesempatan pulang ke rumah dan merasakan tenangnya suasana hidup. 
Tiga hari saya dapat tidur dengan suasana hening, berdoa dalam silentium, dan melakukan aktivitas-aktivitas yang menyegarkan pikiran, tanpa sekalipun teringat akan tugas. Hal ini terasa seperti pembaharuan hidup.
Sore ini saya kembali ke Malang. Ketika mampir di toko alat tulis depan sekolah saya dulu untuk membeli beberapa kertas, saya berjumpa Gabriel Rio Emar, seorang adik kelas dari Kupang yang kini sudah menjadi misionaris dan diutus. Kami mengobrol sebentar, karena ia kelihatan agak terburu-buru. Saya menitipkan salam kepada Alfredo dan Evam, dua adik kelas yang sudah sejak dulu saya beri respect. Syukurlah mereka berdua melanjutkan pembinaan ke jenjang atas dan meneruskan panggilan imamat.
Perjumpaan kecil itu tadi membawa semangat dan rasa bangga di hati, apalagi ketika melihat gedung sekolah dari jauh. Masih seperti dulu. Bangunan tua bergaya arsitektur belanda. Megah. Di dalamnya telah tersimpan kenangan-kenangan di masa pembinaan. Di balik gedung berhiaskan sinar remang-remang matahari senja tersimpan jejak orang-orang hebat dan para sahabat.
Dalam pesona yang sedemikian indah, saya hampir lupa harus kembali ke Malang. Rasanya seperti masih menjadi bagian dari komunitas orang-orang terpanggil itu. Dengan suasana hati yang penuh kegembiraan, saya beranjak pergi. Rio melambaikan tangan selagi berjalan memasuki gerbang Vincentius. Saya membalasnya, dan melaju dengan semangat meninggalkan sore yang indah menuju kota Malang yang siap menanti saya dengan tanggungjawab-tanggungjawab dan tugas.

Kamis, 14 Agustus 2014

Wanna Share?

Hari ini hari yang pendek. Saya hanya berdiam diri di rumah dan mengobrol dengan beberapa orang di media. Banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol hari ini karena saya menjumpai seorang kawan lama yang sudah enam tahun tidak ada kabarnya. Namanya Blablabla Intan Blablabla. Kami berdua tidak pernah bertemu ataupun berkomunikasi, namun hari ini kami membicarakan banyak hal. 
Ia dulu memang memiliki suatu relasi unik dengan saya; dulu sekali di masa-masa SMP. Sekarang, ia berada di luar negeri. 
Banyak sekali obrolan tadi dan saya senang bisa sharing-sharing seperti itu. Saya memang suka diajak curhat. Banyak sekali teman, kenalan, ataupun saudara suka bercerita kepada saya, sampai-sampai saya merasa tercipta untuk mendengarkan. Anyway hal itu justru suatu anugerah dan berkah; dan pertemuan hari ini memberi rasa syukur atas teman yang Tuhan sudah perkenalkan kepada saya.

Senin, 04 Agustus 2014

Halo Frater-Frater!

Beberapa hari yang lalu saya dan kawan2 lama SMA reuni kecil-kecilan dan mengunjungi keempat kawan kami yang sedang dalam proses menjadi imam di seminari tinggi Kongregasi Missionis Langsep Malang. Ada banyak kesan gokil namun terlalu banyak sehingga saya kira saya hanya perlu membagi gambarnya. Berikut ini foto-fotonya;
Masih di kontrakan kawan kami, Beni; di Soekarno-Hatta

Di dekat pintu masuk

Kiri atas ke kanan: Carel, Divin, Aldo, Tomy, saya, Lee, Adhi, Ovan, Bertus
Kiri bawah ke kanan; Beny, Dwika, Shandong, Rinto

Rabu, 21 Mei 2014

Perjalanan Pulang Yang Berbahaya

Kami pulang sore hari. Kami semua senang, namun juga lelah. Saya sangat kecapekan dan ingin segera tidur, namun saya masih punya satu tugas lagi; pulang dengan selamat; mengantarkan Mita dengan selamat. Saya mempersiapkan diri dengan baik dan konsentrasi penuh saat berkendara karena tidak mau terjadi apa-apa; tidak ingin suatu hal buruk terjadi pada saya dan teman yang saya bonceng sehingga membuat yang lainnya repot. Setelah berdoa bersama sebelum berangkat, saya berdoa secara pribadi pada waktu berkendara.
Untungnya berdoa, jalanan menjadi liar saat petang meraja. Tak ada pencahayaan yang layak. Jalan raya gelap, namun kendaraan-kendaraan dari arah berlawanan menyalakan lampu yang terangnya menyilaukan dan mengaburkan pandangan. Sungguh saya gemetar menghadapi dim lampu atau lampu menyilaukan dari kendaraan-kendaraan dari arah berlawanan. Saya tertinggal di belakang, terjebak diantara truk-truk gandeng dan bus-bus yang besar-besar dan berbahaya. Saya sangat kesulitan dan gentar menghadapi sempitnya celah-celah untuk mendahului. Sementara, arus seberang penuh dengan laju cepat dan liar kendaraan bermotor. Petang hari itu benar-benar liar. Pinggiran benar-benar liar!
Diatas semua ini, saya sangat khawatir pada teman-teman saya, terutama yang cewek karena mereka lemah lembut, semetara jalan raya berlaku sangat keras dan liar dalam gelapnya petang hari. Selain mereka, saya juga khawatir akan Akbar dan Pandu. Akbar berkendara pelan dan tertinggal jauh di belakang, sementar Pandu sebelumnya sudah berkata bahwa ia kesulitan berkendara pada petang hari karena sedikit rabun senja. Kekhawatiran yang sama juga pada yang lainnya, pada semuanya. Dunia terlalu tidak ramah dan acuh terhadap kebahagiaan kami; masih saja! Kenapa masih saja macet, kenapa orang melakukan dim yang menyilaukan, kenapa orang berkendara sangat cepat dan membuat kaget pengendara lainnya? dan kenapa tak ada lampu penerang jalan? Demikianlah protes saya sepanjang perjalanan akan keadaan pada petang hari itu. Karena terlalu banyak kekhawatiran, saya mengimbangi konsentrasi dengan doa-doa untuk keselamatan bersama; dan syukurlah semuanya dapat sampai pulang ke tempat masing-masing.

Pantai dan Kawan-kawan Part 2

Mari kita saksikan live commentatory pertandingan ini!
Setelah permainan tersebut kami bersantai-santai. Ada yang membuka bontotan atau bekal makan siang, ada yang masih bermain dengan ombak, ada yang berjemur, dan ada yang masih foto-foto. Setelah ini, kami para cowok menceburkan diri ke ombak-ombak. Kami mencoba banyak hal, mulai dari berdiri menantang ombak hingga berlomba terdampar. Setelah itu kami bermain American Football. Saya berhasil mencetak angka pada permainan ini. Grup saya unggul terlebih dahulu; namun grup lawan segera mengimbangi berkat duo bintang mereka yang berbadan besar dan anti tabrakan. Permainannya sangat melelahkan tetapi seru. Satrio berhasil mengambil beberapa skenario dari permainan ini. Untuk fotonya, saya akan segera menguploadnya.

Yak, Asep melempar bola, menghadapi terjangan Pandu dan.... 

Asep berhasil melewati hadangan Pandu!!!!!!! bola dioper ke Bagas dan....



Bagas berhasil menerima Bola!!! Tanpa hadangan pemain lawan, ia membawa bola ke area pertahanan musuh... dan apakah Bibob bisa mengejarnya... kita lihat kelanjutannya
—




bagas mencetak angka!!! Lawan tidak berhasil mengejarnya! satu angka untuk the east coast. Skor sementara: East Coast 2- 1 Western Shore
—



Tertinggal satu angka, Western Shore berusaha menekan dengan serangan-serangan berbahaya dari dua bomber utama mereka. Pertandingan berlanjut sengit!



Pantai dan Kawan-Kawan Part 1

Liburan ini saya ke pantai lagi, namun kali ini jauh lebih spesial karena mengajak teman-teman sekelas. Hubungan yang baik dan erat di kelas selama dua tahun ini menuai kebersamaan yang menggembirakan di pantai kemarin.
Kami berkumpul di kampus sekitar jam enam (saya dan beberapa teman datang jam 8-an). Itu rencananya, namun karena mobil yang disewa belum kunjung datang, waktu berangkat jadi molor. Jadi kami berangkat agak siang. Beberapa naik mobil, beberapa naik sepeda motor. Yang bersepeda motor ada saya yang menggandeng teman saya Mita, Bagas menggandeng Okta, Mas Coco dan Mimir, Dinny bonceng Mega, Pandu menggandeng Dewi, Akbar bersama Nafisah, dan Ran bersama Virda. Perjalanannya sangat jauh, namun tidak membosankan karena ada teman. Ohya, saya salut dengan teman-teman cewek yang naik motor. Perjalanannya melelahkan, saya sangat lelah berkendara melewati kota pinggiran, gunung, hutan, desa pedalaman, dan tebing-tebing curam; dan mereka juga mengalami hal yang sama dengan saya. Jempol dan tepuk tangan untuk mereka!
Lalalala
Di pantai, kami bersenang-senang. Di awal semua orang tampak enggan dengan air kecuali Manyun yang langsung menyapa air laut dan berdiri di antara ombak-ombak. Setelah beberapa moment foto-foto, kami tak enggan lagi untuk berbasah-basahan. Sebenarnya ada tulisan 'dilarang mandi di pantai' namun kami tetap nyemplung. Ohya pada saat itu kami bermain sandiwara. Akbar pura-pura pingsan dan kami menggotongnya ke darat. Beberapa teman cewek panik dan datang melihat, demikian pula orang-orang di sekitar pantai. Mereka berbondong-bondong datang melihat. Seorang perempuan tua tampak memaki-maki kami sambil menujuk tanda larangan mandi di pantai. Sesaat kemudian setelah sandiwara berhasil Akbar bangun dan tertawa, orang-orang tertipu. Si perempuan tampak kesal karena tertipu dan berkata "Ooo... kurang ajar!! Dasar anak muda!!" 



Bagus kan pantainya?
Yeyeyee


Sabtu, 22 Februari 2014

Ketika Kau Melambung

Seseorang berharap bertemu dengan saya besok. Kegembiraan saya melambung. Serasa ada rindu yang terselip pada kata-katanya. Entah betul-betul ada atau tidak; saya bahagia; pun demikian saya tidak akan berharap terlalu banyak. Harapan yang menggebu kadang dapat memukulmu kelak. 
Pertemuan ajaib saya dengan dia satu setengah tahun yang lalu berbuah pertemanan yang indah. Entah bagaimana; kami sangat jarang bertemu, namun karena sudah mengenal sejak lama, setiap perbincangan terasa nyaman. Ini pertamakalinya, saya mencintai seseorang dengan menjadi teman. Loving someone with affection. Saya senang apabila suatu saat saya dipercayainya dan kami jadi sahabat. Atau, jika Tuhan mengijinkan; hal yang lebih ajaib terjadi. Bagaimanapun, semua kembali kepada prinsip awal; jangan berharap terlalu banyak; tetapi jangan berhenti berusaha!

Senin, 03 Februari 2014

Tentang Sapaan

Orang akan mengirim pesan apabila sedang rindu karena jarang berjumpa dengan seseorang. Ini merupakan salah satu bentuk sayang dan rasa 'care' seseorang kepada yang lain. Seperti Lukman Sardi yang selalu menjaga kontak dengan orang-orang tercintanya meski terpisah jauh; demikian juga saya sesekali menyapa kawan, keluarga, dan orang yang saya sukai ketika sedang rindu. Senang sekali rasanya mendapati seorang sobat membalas sapaan rindu dengan candaan lepas gaya lama. Bagaimanapun, biasanya, kawan-kawan saya selalu menyapa terlebih dahulu.
Contohnya adalah percakapan sms ini:
 Sta: "No sempak kamu berapa?"
Saya: "Salah sms to Sta?"
Sta: "Wkwkw, gak sep pancen iseng ae"
Saya: "Nomor sempakku wis nggak ketok Stan, wis jebol bolong bolong soale"
Sta: "Hahahahaha...wkwkkw....   Sep, awakmu ndek Blitar to? yak apa kabare??"
dan seterusnya. Demikianlah; terkadang pesan pesan semacam ini membuat saya kaget. Ketika sedang khusuk-khusuknya beribadah, tiba-tiba ada pesan-pesan berisi sempak muncul di layar ponsel. Begitu mengejutkan; namun membahagiakan karena dari sahabat. Sapaan dari kawan-kawan dekat selalu menciptakan suasana baru di hati saya. Mereka adalah salah satu alasan penting mengapa saya bersyukur atas hidup ini.
Disamping kawan, senang juga rasanya ketika seseorang yang saya cintai menyapa balik dengan sejuta keramahan. Saya tak begitu kreatif dalam mengungkapkan rasa perhatian. Menanyakan kabar sekiranya adalah hal terbaik yang saya bisa lakukan. Namun sayang, saya perlahan menyandarkan harapan akan dia yang selama ini saya kejar. Untuk suatu alasan yang berhubungan dengan percakapan, saya urungkan niat saya. Maka hiduppun berlanjut dan rasa sedih akan sendirinya tergusur oleh kebahagiaan memiliki teman-teman baik sehari-hari. Urusan cinta memang sulit. Lantas apa yang saya lakukan? Pak Nasrul, satu-satunya dosen saya yang berambut gondrong dan awesome berkata "biarkanlah itu terbuka." So, jadi, biarkanlah pertanyaan-pertanyaan akan misteri kehidupan ini terbuka; biarkanlah waktu menjemput keajaiban dan keindahan yang tersimpan di masa yang akan datang, yang kita tidak tahu dimana dan kapan. Just enjoy life, do not be afraid; don't worry! But, do not waste your time by not doing any struggle! Keep awesome and cool!
Sekian, terimakasih!

Kamis, 23 Januari 2014

Rangkuman Hari-hari

Kemarin, saya futsal dengan beberapa kawan sekelas dan beberapa orang dari kelas lain. Pertandingannya berlangsung seru namun melelahkan bagi semuanya, karena kebanyakan kami tidak berolahraga selama berbulan-bulan. Beberapa dari kamipun cedera telapak kaki. Beberapa harus merelakan kulitnya terkelupas karena gesekan lantai lapangan futsal (by the way, saya dan kawan-kawan tidak memakai sepatu.) Saya menderita paling parah. Disamping telapak kaki yang ter-(tidak perlu saya menyebutnya), sekujur badan pegal-pegal. Sungguh melelahkan, namun sangat berguna sebagai momen pemersatu saya dan kawan-kawan dengan kelas sebelah yang kini bercampur jadi satu di jurusan sastra. Saya sebenarnya tidak suka menyatu dengan kelas itu. Jujur. Saya hanya menikmati futsalnya. Meskipun semester ini ada pembauran yang tidak diharapkan seperti itu, saya tidak berharap banyak untuk berkenalan dengan mereka semua, hehehe. Sebab, teman-teman saya sudah merupakan 80% kebahagiaan hidup, bagian terbesar dibanding hal-hal lainnya. Mereka semua, tanpa terkecuali, cukup membuat saya sangat bahagia.

Kamis, 16 Januari 2014

Rangkuman Hari-hari

Saya menjalani hari-hari yang indah beberapa waktu yang lalu. Sempat reuni kecil-kecilan dengan sahabat saya Stanlee, Denta, Aldo, dan kawan-kawan lainnya. Sempat juga mengajari sang sahabat mengendarai sepeda motor tangki depan. Suatu kebanggaan tersendiri dapat membuatnya bisa melakukan apa yang selama ini sulit ia lakukan. Suatu kehormatan sepeda motor kuno saya dipakainya untuk nge-date di Minggu malam. Diatas semua itu, berkumpul bersama sahabat-sahabat adalah suatu anugerah yang sangat indah bagi saya. Waktu yang sangat berkualitas, kalau boleh saya menyebutnya, karena dengan itu saya jadi lebih bersemangat lagi menjalani kehidupan ini.
Saya, Ovan, Beni, Stanlee(atas). Lee juga menulis blog. Klik untuk mengunjunginya.
Selain tentang kawan-kawan, saya mengalami hal-hal ilahi. Beberapa hari terakhir, saya merasa lebih dekat dengan Tuhan. Perlahan mencoba untuk selalu dekat dengan-Nya dengan berpuasa. Berusaha menjauhi segala hal yang berakibat dosa, berusaha untuk tidak mengeluh, dan menahan setiap pikiran negatif. Saya sengaja berjuang seperti ini karena suatu keinginan agar Tuhan tidak enggan dekat dengan saya sehingga saya merasa terberkati dan aman. Inilah yang menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya; suatu kebahagiaan yang selalu awet dan penuh kedamaian.

Kamis, 19 Desember 2013

Sapaan Untuk Handai Taulan

Halo sahabat-sahabat. Pada kesempatan ini aku menyapa kalian semua, wahai sahabat-sahabat semasa SMAku. Hai Stanlee, Denta, Tomi, Dwika, Ivo, Aldo, Ovan, hmmm..dan semua! Aku sangat bahagia saat ini, bro! Tuhan begitu baik, menempatkanku di kelas D jurusan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang. Disana, aku punya teman-teman baik; sangat baik. Sungguh, ini tak terjelaskan. Intinya, kelas itu menyimpan segudang kenyamanan dan keceriaan. Dan...lagi-lagi tak terjelaskan. Sungguh, ada beribu rasa dalam sanubariku. Karena aku sedang bahagia inilah, aku menyapa kalian. Bagaimana kabar? Aku sangat berharap kalian juga menemukan zona persahabatan yang seindah ini. Aku tahu, beberapa dari kalian tidak bahagia saat ini. Aku berdoa dari sini, kawan. Untuk kalian semua, tak akan kulupakan keceriaan dan duka bersama masa lalu. Semoga kalian bahagia, kawan!

Senin, 16 Desember 2013

Seharian Di Kantin

Siang ini, setelah menyelesaikan ujian akhir salah satu mata kuliah, kawan-kawan mengajak makan di pujas, karena nanggung rasanya jika langsung pulang. Kala itu hujan turun dengan derasnya, hingga menjebak kami di kantin berjam-jam. Ada Mimir, Encee, Ran, Dewi, Fisa, dan kami the guys of GG alias Manyun, aku, Rendi, dan Oni. Para cewek sebelumnya duduk di pinggiran. Kala hujannya jadi tambah deras, mereka merapat ke meja GG guys. Di tengah derasnya hujan, kami ngobrol tentang banyak hal. Suasana yang begitu nyaman nan aman. Ngomong-ngomong, bersama teman-teman adalah salah satu zona nyaman yang paling aman dalam hidupku saat ini. Aku suka sekali, kala Encee, teman kami yang mungil nan bijak, bertutur sepatah-dua patah kata pada GG guys. Senang sekali mendengarkan pendapat teman-teman lain tentang diriku. Aku juga senang, kala obrolan kami melantur kepada hal-hal yang bersifat pribadi; sangat pribadi. Kami telah begitu dekat, hingga kami tahu apa yang tersembunyi dalam diri yang lain. Tak terkecuali tentang perasaanku saat ini. Awalnya, aku terus menyembunyikannya, keterpesonaanku akan satu teman yang bernama Magna. *Jika engkau familiar dengan bahasa Latin, maka engkau  tak akan kesulitan menebak siapa nama aselinya. 
Saat hujan bertambah deras dan matahari semakin menurun di ufuk barat, satu dari kami mengajak main "Truth or Dare." Ini adalah permainan yang begini; sebuah penunjuk diletakkan di tengah-tengah. Kami duduk melingkar. Benda penunjuk diputar, dan bila penunjuk mengarah pada salas satu dari kami, maka ia harus memilih Truth atau Dare. Truth adalah berani menjawab pertanyaan-pertanyaan dari teman lain, sekalipun privasi. Dare berarti berarti berbuat seperti yang diminta peserta lain. 
Permainan dimulai. Aku punya catatan buruk setiap kali bermain ini. Benar saja, aku kena lima kali, paling banyak dibanding yang lain. Berhubung suasana tidak mendukung, maka aku harus memilih "truth" yang berarti teman-teman bebas bertanya apapun tentang diriku. Dan,,,terbukalah rahasia tentang keterpesonaanku pada Magna, seorang teman sekelas kami. Ya, aku sudah lama suka Magna ini. Sejak pertamakali bertemu, dan seterusnya hingga kini. She's the first and lasting! Perasaan itu hidup, mengailir dalam hati dan memberi warna setiap hari. Aku tak kunjung mengungkapkannya, karena aku pikir, aku sudah merasa sangat nyaman menjadi temannya. Beberapa alasan lain yang juga tak kalah kuat membatasi ruang gerakku. Aku memang sengaja melakukan ini, karena tidak ingin semua hal indah yang telah ada menghilang.  
Ya, sampai disini saja keterkagumanku padanya.
Ia begitu dekat beberapa hari yang lalu. Damai sekali hati ini kala menyebut namanya. Namun, untuk saat ini aku terdiam dalam permenungan; tentang  benarkah apa yang kulakukan ini. Aku menjadi takut dan terpuruk, teristimewa setelah mengungkapkan hal ini dalam "Truth or Dare" hari ini. Magna, apakah hanya akan sejauh ini tentangku dengannya. Sungguh, aku terdiam. Dalam perjalanan pulang ke kost, tubuhku serasa mati rasa. Aku begitu lemas. Disamping aku pulang dengan perasaan senang sehabis bercengkrama ria, aku merasakan kegundahan siap mengepung diriku malam ini. Kegundahan tentang sikapku dan Magna. Hmmm..entahlah, bagaimana kelanjutannya.
Game "T dan D" itu sungguh mengasyikkan dan mempererat, namun begitu mendebarkan jika engkau punya keberuntungan yang tidak baik. Seorang teman hari ini harus mengungkapkan bahwa ia mengagumi si X, yang pada saat itu ada di situ bersama kami. Sungguh, bukan aku saja korban T dan D sore ini.

Selasa, 10 Desember 2013

Tentang yang Tersirat

Saat ini, aku tengah merasakan salah satu hal indah dalam hidup. Ini tentang teman. Ini tersirat, dan sulit untuk dituliskan. Tentang perasaan yang tengah dilimpahi damai dan kehangatan. aku mencintai teman-teman, semuanya, tanpa terkecuali yang paling menjengkelkan sekalipun. Ketika berada di tengah-tengah mereka, senang sekali rasanya. Perasaan yang sama ketika aku masih kelas tiga di angkatan St. Joseph, seminari Garum, Blitar.
Ketika pulang kuliah, biasanya hujan mengguyur kota ini dengan dera air yang melimpah. aku dan teman-teman biasanya sambil menunggu hujan, ngobrol-ngobrol dan bercanda. Sekali lagi, ini adalah suasana yang tak terjelaskan. Pokoknya,  senang sekali mengalaminya. Di kala dunia tengah diguyur hujan dan hawa dingin, kami bercengkrama dalam kegembiraan. Sungguh, suatu hal yang sangat menyenangkan!

Kamis, 07 November 2013

Aku dan Organisasi di Kampus

Kalau mengingat semester satu, yang terlintas adalah kebosanan dan keculunan mahasiswa baru yang masih belum menemukan jati dirinya, atau masih belum tahu bagaimana untuk mengakui dirinya sebagai orang yang indenpenden. Yah, pada masa itu aku masih suka ikut arus. Aku ikuti banyak organisasi. Aku sering bolak-balik kos-kampus memperjuangkan asa untuk mendapat banyak pengalaman. Nahh, namun hasilnya? Lelah. Sumpek. Hasil nyatanya adalah bahwa aku tidak menjadi diriku. Baru di semester dua, aku bisa menjadi aku yang sesungguhnya. Kutinggalkan segala organisasi yang telah kugeluti, karena aku telah menemukan zona pertemanan yang membuatku nyaman berada di kota Malang ini. Sejak saat itu, aku tak pernah ikut organisasi dan memiliki banyak waktu bersama teman-teman. Meskipun begitu, aku merasa sangat berbahagia menjadi anggota IKK di kampusku. Kehangatan persaudaraannya; luar biasa. Meski aku tidak pernah menampakkan diri lagi, aku sangat bangga pernah bersama-sama dengan mereka. Go IKK!