Rabu, 28 Mei 2014

Pendamai

Salah satu hal besar tentang hidup yang diajarkan orangtua saya adalah tentang damai. Sejak dahulu mereka berdua mengajarkan saya untuk menjadi pendamai. Tidak boleh ada rasa benci dan dendam, harus segera melupakan kejengkelan terhadap orang lain, begitu tutur mereka berulang-ulang. Hal ini menjadi sebuah proses panjang untuk membentuk seorang pendamai.
Saya tidak menyadari proses ini; kecuali jika saya sedang marah dan tidak suka dengan seseorang kemudian teringat beberapa teguran di masa kecil dan juga teringat akan orangtua saya yang tidak suka punya rasa benci terhadap orang lain. Hasil dari proses ini dapat saya rasakan karena hal-hal yang menyadarkan itu.
Saya bersyukur terlahir di keluarga pendamai. Kinipun saya masih berproses, untuk menjadi lebih pendamai. 
.... ....... ...... ..... ...... 
Tenang dan hening
Hatiku 
Damai bergeming
Jiwaku bebas!

Syukur

Saya sangat bersyukur, meskipun ayah saya harus tinggal sendirian, ada banyak orang yang baik padanya. Sayapun sangat bahagia dilahirkan di desa ini. Ayah memang sudah terkenal sejak dahulu karena keuletan dan capnya sebagai orang paling rajin. Orang-orang begitu menyukainya. Meskipun dulu ia sempat difitnah oleh saudara-saudaranya dan terkucil di lingkungan, kini justru lebih banyak orang yang perhatian padanya; lebih banyak orang yang datang dan mampir ke gubuk kami yang kecil ini untuk sekedar berbincang atau bercanda. Saya sangat bersyukur atas keberadaan mereka semua. Terberkatilah mereka. Amin. 
Diatas semua ini saya sangat bersyukur karena ia masih gigih berjuang demi saya dan adik. Saya tidak akan mengecewakannya. Semua jerih payahnya akan segera menuai kebahagiaan sempurna. 
Amin. 

Feeling at Home

Hari ini saya merasa sangat damai. Saya di Blitar, di kampung halaman dan bertemu orang-orang yang menyenangkan. Hari ini saya keliling kota; kota yang amat kecil namun tenteram. Suasananya begitu ramai, orang-orang lalu-lalang, jalanan tak pernah sepi namun tidak ada kemacetan samasekali. Saya memperhatikan, di setiap lampu merah rata-rata jumlah mobil yang berhenti hanya dua hingga empat saja. Selebihnya adalah sepeda motor, sepeda, dan becak. Ini sangat berbeda dengan kota dimana saya menempuh studi sekarang.
Di kota ini tidak ada mal sejak dulu dan (semoga) tidak akan pernah ada mal di masa depan. Ini sudah menjadi kebijakan pemerintah yang turun temurun, yang diyakini menjadi penyelamat bagi keberadaan pasar tradisional. Menurut saya pribadi, tidak adanya mal menjadikan kota ini lebih ramah dan tenteram.
Disini sangat nyaman sekali, seperti yang tersirat pada lagu campursari berjudul Blitar. "Blitar kutho cilik kang kawentar," demikian bunyi liriknya. "Blitar, kota kecil nan bersinar," demikian artinya.

Demikianlah... Blitar. This is Blitar!
Saya berdoa semoga Blitar tetap mempertahankan kesan ini hingga di masa yang akan datang.

Sabtu, 24 Mei 2014

Syahdunya Paduan Suara

Saya sangat menikmati paduan suara. Kesukaan ini telah ada sejak masa kecil, ketika saya mendengar satu paduan suara dalam salah satu serial Tom and Jerry; tak tahu secara detil yang episode apa; namun seingat saya itu ada di bagian yang menceritakan perang dunia dan tikus-tikus yang berusaha menyelamatkan diri dari kekacauan manusia yang melibatkan mereka. Lirik dari lagu yang mengiringi tidak terdengar jelas karena saya masih sangat dini untuk memahami bahasa Inggris. Yang saya ingat dengan baik adalah nada-nadanya; terdengar seperti Hark The Herald Angels Sing.
 
Dalam film kartun itu, tikus-tikus berusaha melarikan diri dari tempat tinggal mereka yang hancur karena bom-bom perang. Suasana dunia yang tergambar adalah gelap, kacau, dan dingin; namun tikus-tikus saling bekerjasama dan dalam kebersamaan mereka menciptakan suasana yang hangat dan damai. Paduan suara yang syahdu dan agung mengiringi kehangatan suasana kebersamaan para tikus di tengah dunia yang dingin dan gelap. Merdu suaranya meggema seperti lagu-lagu pujian pada tanggal 24 Desember malam hari.
Memorable!
 
Demikianlah saya jatuh cinta pada paduan suara. Suara yang dipadukan lebih mengena di hati. Bermacam-macam suara berpencar memasuki lorong-lorong hati dan menggema, menciptakan suasana syahdu dan megah. Suara yang terpecah-pecah menjadi beberapa bagian namun berpadu dengan baik adalah suatu keindahan tersendiri. Paduan suara memang sempurna; tak heran jika band legendaris seperti Queen juga menciptakan paduan suara yang megah di beberapa lagu mereka.

Jumat, 23 Mei 2014

All Kinds of Everything Remind Me of You

Apa yang tidak ada di dunia nyata ada dalam mimpi. Inilah yang saya alami pagi ini. Mimpi indah membuat saya terbangun lebih awal. Dalam mimpi itu dia berkata:
"I love you, oh my beloved man from east, more than anything!"

I can't describe how I was feeling. Tentang bagaimana perasaan saya, itu tak terlukiskan! Saya melambung tinggi dalam kebahagiaan; dan oleh karena hal ini saya terbangun. Pertama-tama; sulit rasanya membedakan apakah yang barusan dalam mimpi itu terjadi kemarin di dunia nyata ataukah hanya mimpi sekilas yang baru saja terjadi. Setelah kembali seratus persen sadar, saya mengadu dalam doa, memohon bantuan Tuhan untuk melupakannya. I have tried to move on. I have just failed.
Saya tak kunjung berhasil move on  karena segala hal mengingatkan saya padanya. Saya mungkin akan menolak diajak teman-teman lama saya camping di pantai, karena pantai mengingatkan saya akan ia yang mengunjungi pantai bersama saya dan teman-teman. Selain pantai, saya kemarin menolak sepupu saya yang mengajak jalan-jalan di suatu kota, karena kota itu adalah tempat dimana ia tinggal. Ketika hendak pergi ke kota tersebut, yang muncul di dalam pikiran saya adalah dia; entah mengapa, padahal di kota tersebut juga ada banyak kenangan indah bersama teman-teman SMA dan keluarga saya pada masa kecil. 
All kinds of everything remind me of her. 
Mungkin saya sudah kebangetan rindu pada seseorang. Untuk sementara, sebuah cara yang terpikirkan untuk melupakannya adalah mencoba banyak hal baru di liburan ini; mengunjungi tempat-tempat baru yang tidak menyimpan kenangan tentangnya. Mungkin saya akan pergi ke Bandung, ke tempat tinggal tante saya. Barangkali ada banyak pengalaman berkesan yang dapat memperbaharui semua hal yang ada dalam benak saya.

Rabu, 21 Mei 2014

Farewell

Mungkin kami adalah orang yang tidak suka berpisah terlalu cepat. Selesai bergembira bersama di pantai, kami makan malam bareng di Nelongso Suhat Malang. Beberapa menit kami habiskan disana dengan rileks. 
Kami bersenda gurau.
Teman-teman bercanda.
Rose, yang notabene sudah jelas tidak ada apa-apa dengan saya jadi sasarannya. Teman-teman membujuknya (memaksa mungkin lebih tepatnya, haha) untuk diantar saya ke kosnya. Saya beranjak; ia saya antar ke kos-kosannya. Kami mengobrol sedikit, sedikit tentang hal-hal kecil sepanjang perjalanan; sedikit karena tidak butuh waktu yang lama untuk sampai di kosnya. Saya pribadi senang akan kerjaan teman-teman ini di satu sisi, namun di sisi lain saya jadi semakin sungkan dengannya. 
Setelah mengantarnya, saya mampir di kos teman saya, Pandu. Kami sharing-sharing untuk beberapa saat. Setelah itu, saya menuju rumah kawan saya untuk nunut bermalam karena kos saya jauh letaknya; jauh dari peradaban kota ini.
Dan malam itu saya beristirahat dengan damai, membawa kenangan-kenangan indah sepanjang hari ke alam mimpi, dimana hal-hal yang tidak terjadi pada moment-moment itu, terjadi di dalam mimpi; dimana cinta yang tak ada, ada dalam mimpi itu! Mimpi yang indah! Saya tidak bisa menjumpainya di alam nyata. Suasana  yang sempurna!

Perjalanan Pulang Yang Berbahaya

Kami pulang sore hari. Kami semua senang, namun juga lelah. Saya sangat kecapekan dan ingin segera tidur, namun saya masih punya satu tugas lagi; pulang dengan selamat; mengantarkan Mita dengan selamat. Saya mempersiapkan diri dengan baik dan konsentrasi penuh saat berkendara karena tidak mau terjadi apa-apa; tidak ingin suatu hal buruk terjadi pada saya dan teman yang saya bonceng sehingga membuat yang lainnya repot. Setelah berdoa bersama sebelum berangkat, saya berdoa secara pribadi pada waktu berkendara.
Untungnya berdoa, jalanan menjadi liar saat petang meraja. Tak ada pencahayaan yang layak. Jalan raya gelap, namun kendaraan-kendaraan dari arah berlawanan menyalakan lampu yang terangnya menyilaukan dan mengaburkan pandangan. Sungguh saya gemetar menghadapi dim lampu atau lampu menyilaukan dari kendaraan-kendaraan dari arah berlawanan. Saya tertinggal di belakang, terjebak diantara truk-truk gandeng dan bus-bus yang besar-besar dan berbahaya. Saya sangat kesulitan dan gentar menghadapi sempitnya celah-celah untuk mendahului. Sementara, arus seberang penuh dengan laju cepat dan liar kendaraan bermotor. Petang hari itu benar-benar liar. Pinggiran benar-benar liar!
Diatas semua ini, saya sangat khawatir pada teman-teman saya, terutama yang cewek karena mereka lemah lembut, semetara jalan raya berlaku sangat keras dan liar dalam gelapnya petang hari. Selain mereka, saya juga khawatir akan Akbar dan Pandu. Akbar berkendara pelan dan tertinggal jauh di belakang, sementar Pandu sebelumnya sudah berkata bahwa ia kesulitan berkendara pada petang hari karena sedikit rabun senja. Kekhawatiran yang sama juga pada yang lainnya, pada semuanya. Dunia terlalu tidak ramah dan acuh terhadap kebahagiaan kami; masih saja! Kenapa masih saja macet, kenapa orang melakukan dim yang menyilaukan, kenapa orang berkendara sangat cepat dan membuat kaget pengendara lainnya? dan kenapa tak ada lampu penerang jalan? Demikianlah protes saya sepanjang perjalanan akan keadaan pada petang hari itu. Karena terlalu banyak kekhawatiran, saya mengimbangi konsentrasi dengan doa-doa untuk keselamatan bersama; dan syukurlah semuanya dapat sampai pulang ke tempat masing-masing.