Perjalanan kembali ke medan perang hari ini terasa jauh berbeda. Pertama, kini tungganganku lebih tangguh dan gagah. Sepanjang jalan, aku tak merasa lelah duduk. Kedua, rasanya aku semakin terlihat lebih besar dengan si klasik itu. Ketiga, kini aku merasa semakin menjadi 'aku'. Ya, sebagai seorang yang suka berkendara, kehadiran motor tangki depan sangat sesuai. Kini aku bisa lebih santai kalau ingin berkendara ke tempat yang jauh. Selanjutnya, aku merasa jadi lebih heroik. Jadi merasa semakin mirip dengan ksatria. Yang terakhir, bapak semakin mencintaiku. Ia, selain bangga dengan diriku yang beda dari pemuda-pemuda biasa, juga senang sekali bisa mewujudkan keinginanku memiliki motor GL Max. Aku juga semakin mencintainya. Ia sangat berarti bagi keseluruhan hidupku. Luka masa lalu tiada henti mengusik, namun cinta bertahan lebih lama dari apapun yang tidak baik. Aku rasa aku pernah mengatakannya pada pos yang lama. Bagaimanapun, dengan hadirnya GL Max, perjalanan baru dimulai. Perjuangan berlanjut dengan kekuatan yang baru pula.
Minggu, 27 Oktober 2013
Safe Haven
Judulnya sama persis dengan film Hollywood; tapi aku sedang tidak berbicara tentang film. Aku ingin berkata beberapa hal tentang rumah dan desaku. Bagiku, kini, desa adalah tempat paling nyaman. Hal ini terbukti setiap kali aku harus kembali ke Malang, rasanya berat sekali meninggalkan kehidupan yang damai disana. Berat sekali meninggalkan bapak, nenek, kakek, Belle si anjing kecil dan juga Blacky, dan semua handai taulan; seperti sore ini.
Hari ini terasa cepat sekali. Rasanya waktu tidak adil kala sedang bersama dengan orang-orang tercinta. Rasanya, aku baru saja mengobrol dengan pak Harto, tetanggaku; eh, nyatanya aku sedang berada di kamar kost mengetik baris kalimat ini. Rasanya aku baru saja beramai-ramai ikut rombongan ke kantor desa untuk menyoblos kepala desa periode kedepan, eh, nyatanya aku barusan berlatih presentasi untuk besok. Hmm, mau tidak mau, hidup harus berlanjut. Aku harus keluar dari zona aman dan nyaman di desa untuk beradu di kota. Hmm, aku berkata 'zona aman' dan sadar bahwa untuk menggapai sesuatu, kita terkadang harus mengorbankan kebahagiaan pribadi kita. Nahh, lagi-lagi Viva la Vida! Sekalipun engkau sehari dalam kehangatan dibawah atap rumah dan sebulan dalam kegentaran dan kerasnya medan perjuangan, hidup harus berlanjut. Viva la Vida, pembaca!
Jumat, 25 Oktober 2013
Para Penggugah Tawa Memiliki Tanggungan Lebih
Senang sekali rasanya menjadi bagian hidup dari orang-orang yang memiliki hidup yang luar biasa. Langsung saja, menuju ke kawan paling dekatku. Ia berkepribadian sanguinis(menurutku), atau orang yang suka bercanda dan membuat orang lain tertawa. Ya, dari dulu ia adalah sosok yang amat ceria dibanding teman-teman lain seangkatan. Setiap tawa teman-teman satu kelas (dulu SMA), dalam satu hari, aku yakin, kalau dipersentasikan, 85% berasal dari sang kawan ini. Rasanya Tuhan menciptakan dia sebagai sang berhati teguh yang sangat berarti untuk membuat orang lain bahagia. Namun, tahukah kamu, dibalik keceriaannya, beribu duka bersembunyi dibalik setiap gelak tawa dan raut kebahagiaan di wajahnya. Ia bukanlah orang yang berkehidupan penuh dengan kebahagiaan, tetapi justru banyak beban dan tanggungjawab. Entah bagaimana sang kawan bisa tetap membuat yang lain bahagia. Sungguh, ini diluar kepalaku. Aku tidak habis pikir ia bisa bertahan, bahkan penuh semangat menjalani hidup ini. Luar biasa!
Sama halnya sang kawan, di kelas, Oni adalah penggugah keceriaan. Ia juga sanguinis. Setiap hari, pokoknya ada Oni di kelas, pasti nggak akan sepi sedikitpun. Keberadaan Oni ini sangat berarti dalam kehidupan perkuliahan dan juga seluruh hidupku itu sendiri. Aku jadi semangat, sekalipun sehari harus menghadapi jadwal padat kelas. Sesekali, ia jadi inspirator dan motivator. Great! Ia begitu spontan dan gokil. Namun, sekali lagi, aku berpikir mungkin sang kawan ini menyimpan kepedihan di lubuk hatinya. Mungkin, dibalik setiap tawa dan gurauannya, tersembunyi rasa pedih. Ia hidup dengan ayahnya seorang. Ibunya telah lama pergi. Ayahnya sangat baik; ini anugerah besar yang bisa jadi hadiah Tuhan untuk keteguhan hatinya. Dan kini, ia masihlah si penggugah tawa; untuk aku, Manyun, Rendi, dan semua teman. Ia, keteguhan hatinya, mengagumkan!
Dua kawanku ini kiranya cukup memberi bukti bahwa hidup ini masih bisa diperjuangkan. Masih ada hal yang lebih baik untuk dilakukan untuk mengatasi kepedihan. Bukti bahwa narkoba, pergaulan bebas, dan geng liar bukanlah pelarian yang benar. Pelarian yang benar adalah persahabatan. Solusi yang benar adalah menjadi bahagia dengan membuat yang lain bahagia, mungkin kedua kawan ini pernah berpikiran begini. Hidup sejatinya perlu diperjuangkan. Hidup harus dilukis, agar menjadi indah.
Sebagai penutup, aku ingin berterimakasih pada kedua kawanku ini. Kehadiran mereka berdua adalah anugerah terindah dari Tuhan. Pembaca terkasih, marilah kita perjuangkan hidup ini, seperti mereka, yang dengan cara mereka sendiri membuat keindahan menakjubkan pada hidupny dan hidup orang lain.
Tentang Pernikahan Dini
Sehari yang lalu, ketika hendak pergi ke kampus, jalan sedikit tertutup karena ada pesta perkawinan. Ada dua pesta. Saat itu, yang terlintas dalam kepalaku adalah tentang perkawinan itu sendiri. Perkawinan; apa rencanamu tentang perkawinan? Di umur berapakah engkau akan menikah? Berbagai macam pertanyaan bertema sama berulangkali mondar-mandir dalam pikiranku. Akupun sempat teringat akan beberapa kabar mengejutkan yang kudengar kala terakhir kali aku pulang kampung. Devi, tetanggaku yang umurnya lebih kurang tiga tahun dibawahku, sudah punya anak. What the heck! Aku dulu terkejut saat pertamakali mendengar kabar itu. Hmm, kalau si Devi di usia itu sudah menikah, lantas tidakkah ia punya mimpi-mimpi untuk diraih? Apakah ia berpikir bahwa tujuan hidup hanyalah untuk KAWIN? Tidakkah ia tahu bahwa ia bertanggungjawab untuk mengangkat derajat keluarganya? Oh, sangat amat disayangkan, bukan? Menikah di usia dini bukanlah pilihan baik dalam hidup ini. Ohya, ngomong-ngomong bukan Devi saja. Beberapa hari kedepan, tetanggaku yang usianya tiga tahun diatasku, akan menikah. Beberapa pemuda dan pemudi lainnya telah dan akan menikah. What a suck, man!
Melihat realita ini, aku jadi bersyukur. Bersyukur bahwa aku adalah orang yang beda dari pemuda-pemudi seumuranku di desaku. Aku idealis; punya pandangan sendiri mengenai bagaimana hidup ini seharusnya. Aku punya visi; sebuah visi yang jauh kedepan. Aku tidak memikirkan perkawinan untuk jarak yang dekat. Perkawinan itu masih jauh. Nanti, ketika aku telah meraih kemenangan yang kuidam-idamkan. Aku punya banyak teman di kota, di luar kota, dan di luar negeri bahkan; berbeda dengan kebanyakan kaum muda disini. Kini, kuingin berjuang dan berdoa supaya aku dapat menapakkan kakiku ke titik yang amat jauh dari tempatku berdiri sekarang. Hidupku masih panjang, langkahku masih jauh; kebebasanku masih perlu dipakai untuk melewati petualangan dan tantangan yang beraneka ragam. Aku; aku tidak akan menjadi seorang ayah sebelum menjadi bohemian sejati. Tuhan memberkatiku. Amin. Tuhan memberkati pembaca. Amin.
Kamis, 24 Oktober 2013
Tentang Energi Positif
Orang yang dalam hidupnya harus menanggung beban berat, menurutku ada dua macam, yakni; mereka yang karena beban-beban hidupnya memutuskan untuk terjerumus kedalam kegelapan, dan mereka yang berani memutuskan untuk tetap berjuang demi kehidupan yang lebih baik. Tak perlu mengambil banyak contoh; kita lihat saja para pemuda berandalan, pecandu narkoba, orang-orang yang nekat bunuh diri, atau gadis-gadis remaja yang sudah menjajakan dirinya; mereka kebanyakan terjerumus kedalam sisi kelam dunia karena menanggung beban-beban berat hidupnya. Menurutku, sebenarnya mereka masih bisa bertahan, atau hidup selayaknya, sebab, kupikir, sejatinya manusia diciptakan untuk bahagia. Tuhan menciptakan mereka untuk menjadi makhluk yang bahagia. Tugas manusia hanyalah menemukan kebahagiaan itu sendiri. Mereka yang telah disebut diatas mungkin belum atau tidak bisa menemukan kebahagiaan mereka.
Di sisi lain, beberapa penanggung beban berpikir positif dengan melakukan hal-hal yang berguna di tengah terjalnya kehidupannya. Mereka menanamkan sebuah visi untuk kehidupan yang baik di masa depan. Seseorang dengan latar belakang keluarga broken home bermimpi untuk membangun keluarga yang baik dan penuh kehangatan di masa depannya, tidak seperti orangtuanya. Seseorang yang selalu dihina-hina dan diremehkan, bermimpi untuk menjadi orang kuat dimasa depan, untuk membungkam mulut-mulut tak berguna tersebut. Seseorang yang peruntungannya buruk, berusaha dengan segenap keberaniannya mengadu nasib di kota besar. Mereka semua berjuang, dengan cara dan keyakinan mereka masing-masing. Mereka berperang dengan rasa sakit, kebencian, dan kemalangan. Mereka berjalan dan terus berjalan, diiringi manisnya indah persahabatan, cinta, dan kemungkinan-kemungkinan mewujudkan impian. Merekalah calon-calon bukti bahwa kehidupan yang kurang baik masih bisa diperjuangkan. Merekalah calon orang-orang berguna bagi bangsa dan tanah air ini.
Aku ingin mengucap seribu salam hangat pada mereka semua, mereka yang hingga kini masih berjuang diantara kenyataan dan harapan. Untuk mereka yang berani melawan kemalangan dan kepedihan, kuserukan kata-kata penyemangat, bahwa mereka tak sendirian. Untuk mereka yang tengah berjuang sendirian di tengah dinginnya malam berbadai, kuberikan pelukan terhangat tanda persaudaraan. Ya, kita semua sama. Kita saudara. Marilah, mari, wahai kawan para pengelana yang menanggung beban-beban berat, kita percaya pada harapan, persahabatan, dan cinta.
Selasa, 22 Oktober 2013
Kembalinya Kesejukan dan Angan Yang Makin Hangat
Aku selalu mengalami pertemanan yang menyenangkan. Hmm, sayang, aku tak menceritakan pengalaman-pengalaman bertemanku di kampus sejak awal. Kurasa bercerita tentang hari ini bisa jadi awal yang bagus. Baik; hari ini Malang kembali dingin karena hujan mengguyur lagi kota berpagar gunung ini dua hari belakangan. Kota berpagar gunung; nama yang mempesona, bukan? Kota ini jadi sangat indah; tanah yang haus telah memuaskan dirinya dengan air yang segar kiriman Tuhan dari langit. Kabut-kabut kembali datang kala matahari mulai tenggelam. Senja hari berkilau. Jalanan yang terbasahi air hujan memantulkan cahaya-cahaya kendaraan dan lampu-lampu kota. Udara dingin menyapamu setiap saat; begitu menyenangkan. Sungguh, suasana Malang kala ini cocok sekali buat kamu yang pengen ngehabisin waktu dengan pacar. Suer! Hmm..kota yang mempesona. Mimpiku untuk tinggal di kota ini kembali hangat, dan semakin hangat ketika kawanku, Manyun tadi mengungkapkan bahwa ia ingin tinggal di kota ini suatu hari. Ngomong-ngomong kawanku ini rumahnya di Batu. Senang sekali mendapatinya berkata demikian. Aku jadi lebih bersemangat untuk berusaha mewujudkan impian tinggal di kota ini. Bukankah indah, kau tinggal di kota mempesona dimana kawan-kawan baikmu juga tinggal tak jauh darimu. Sangat menyenangkan. Aku berharap Oni, Rendi, Satrio, Bibob, Bagas, Coco, dan lainnya juga punya keinginan yang sama. Kota ini bakal jadi lebih indah berlipat-lipat jika mereka nanti dekat.
Senin, 21 Oktober 2013
Motor GL Max
Sore ini bisa jadi sore yang agak menyebalkan, karena seluruh pakaian yang kujemur basah kuyup terguyur hujan deras pertama. Helmku basah dan menjadi sangat berat. Motorku sempat mogok saat pulang kuliah karena kabulator di mesinnya terlalu banyak tersiram air hujan. Aku harus ke Sengkaling terlebih dahulu untuk mengembalikan game di gamezone. Jalanan macet. Aku mencoba mengambil jalan pintas, tapi tersesat ke suatu pedalaman aneh nan mengerikan. Hmmm...bisa saja aku jadi sangat cuek sore ini. Namun tidak demikian. Justru aku bersyukur sekali karena pada saat motorku mogok aku berdoa, setelah sebelumya gagal berkali-kali mencoba. Aku berdoa dan..motorku berjalan. Sungguh, siapa lagi kalau bukan Dia yang Maha Baik, yang menolong. Aku sangat senang Tuhan selalu menolong setiap saat dengan segala caranya. Bukan hanya menolongku dari mogok, Ia juga memberiku kabar gembira bahwa bapak sudah membelikanku motor GL Max. Sepulang dari hal-hal berat itu, aku ditelepon pamanku bahwa motornya sudah ada di rumah. Oh sungguh bahagianya! Aku suka si klasik Gl-Max. Meski motor jenis itu sudah tidak biasa digunakan anak kuliahan, tapi aku suka membawanya. Aku nggak gengsi, karena memang inilah yang aku suka. Hmmm, bahagianya. Hmm, tetapi aku menyimpan juga rasa sungkan pada bapakku. Aku minta ini dan itu padanya, dan aku belum bisa membalas jasa-jasanya. Ingin sekali suatu saat aku ingin membuatnya bangga sebangga-bangganya. Bapak, aku tidak akan melupakan tanggunjawabku di keluarga ini. Namaku Prasetyo; aku dilahirkan untuk setia terhadap keluarga kita. Aku akan selalu membawa harapan-harapan dalam usaha-usahaku membangun kembali dinding-dinding yang telah lama runtuh pada rumah kita, bahtera kita, keluarga kita. Aku akan setia pada itu.
Langganan:
Postingan (Atom)