Senin, 14 April 2014

Sibuk Lagi

Semester ini penuh berkah dan kegembiraan, namun di lain sisi, penuh kesibukan dan kerja keras. Malam ini saya melembur lagi untuk menyelesaikan presentasi dan satu puisi untuk hari urang tahun jurusan. Rencana yang awalnya menyelesaikan dua hal diatas, berubah karena saya kehabisan ide untuk berpikir logis. Saya beralih menulis sebuah puisi, yang penulisannya menghabiskan waktu lebih dari dua jam. Entah karena passion ataukah suatu kebetulan, saya tak tahu. Yang jelas, sekarang saya sangat lelah dan ingin segera istirahat, lalu menghadapi kesibukan lain pada esok hari. Mungkin pada malam-malam berikutnya kegiatan yang sama akan terulang sampai semester ini berakhir. Oh, ya!! Saya tidak suka semester ini, dan semoga ini berakhir dengan baik dan cepat. I want to break free! Saya ingin segera libur dan mengunjungi sahabat saya di Surabaya!
Okei, sekian dulu untuk kali ini. Selamat menjalani hidupmu!

Kamis, 10 April 2014

Akhir Satu Pencarian

Di masa kecil, dunia memperkenalkan saya dengan yang namanya kedamaian, lewat A Whiter Shade of Pale.  Lagu itu sangat mengena dan memorable. Saya pertamakali mendengarnya saat layanan internet masih belum mapan, mungkin sekitar tahun 1999-an, dari tape analog yang memutar kaset berisi lagu-lagu jadul barat kepunyaan bibi saya. Pada waktu itu judul dan penyanyinya masih belum diketahui, karena sampul dari kaset tersebut sudah hilang entah kemana. Jadi pada saat itu hal yang bisa dilakukan adalah menikmati lagunya dan mengagumi penyanyinya, yang entah bagaimana rupanya. 
Suatu ketika, kaset tape analog yang memuat lagu itu hilang entah bagaimana. Tak ada kesedihan atas hal itu, namun beberapa tahun kemudian, ketika mendengar lagu itu di suatu tempat asing, rasa kerinduan muncul dari dalam hati, suatu kerinduan yang amat dalam, yang terpendam waktu. Saya masih kelas enam SD, kira-kira, masih belum terlalu mahir untuk mengoperasikan alat-alat berteknologi untuk mencari sang melodi yang hilang. Kemudian, selanjutnya saya harus menjalani hidup dengan menyimpan rasa rindu untuk mendengar lagu itu lagi, karena tak ada lagi yang memutarnya.
Bertahun-tahun, rindu itu dipendam, di sudut hati yang dalam dan gelap, sehingga saya bisa untuk tidak memikirkannya, namun, tetap mencari dan masih berusaha. Akhirnya, pada (kira-kira satu) tahun lalu, saya mendengarnya kembali di kumpulan lagu-lagu jadul versi instrumental di laptop. Sungguh bahagia bukan main! Saya menemukan harta yang hilang! Harta semenjak masa fajar hidup saya, yang menuturkan kedamaian jiwa. Sungguh, saya gembira sekali. Bisa engkau bayangkan sendiri bagaimana rasanya rindu bertahun-tahun kemudian menemukan apa yang selama ini sangat dirindukan. Apa yang selama ini menghilang, diketemukan kembali.
Saat inipun, saya amat sangat bangga atas pertemuan kembali dengan melodi yang sempat menghilang dari hidup saya itu. Kasus yang sama juga terjadi pada lagu Always Somewhere-nya Scorpion, namun saya hanya menunggu kira-kira empat tahun untuk mengetahui judul dan memiliki lagunya selamanya (di kaset digital maksudnya). 
 Kini, tidak perlu lagi mencari-cari, sebab judulnya sudah diketahui: A Whiter Shade of Pale, dan band yang menyanyikannya, Procol Harum (Britis).
My life has been a beautiful life since You introduced me to songs and melodies, O Lord!
Hidup saya telah indah sejak fajar merekah, sejak lagu-lagu dan melodi mengawali hari dengan kedamaian.

Selasa, 08 April 2014

Terimakasih, ya

Bingung tentang apa yang mau ditulis. Hari ini ternyata baik-baik saja, berlalu singkat namun ringan dan simple. Perkembangan kisah cinta? Perkembangan hidup? Semua baik-baik saja (maksudnya tak ada perkembangan berarti, hehe). Oleh karena itu, pada kesempatan ini, saya mau mengucap terimakasih pada pembaca sekalian, yang sudi meluangkan waktunya hanya untuk membaca sharing saya. Sungguh ini suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya. Terimakasih, pembaca! Terimakasih, pengunjung, semuanya saja, baik yang terlacak widget daftar pengunjung maupun tidak. Terimakasih banyak!
Semoga hari-hari anda penuh berkah dan sukacita! Viva la Vida!

Senin, 07 April 2014

Malam Terlalu Cepat Berlalu

Malam ini saya sengaja menghafal puisi, nonton TV, hingga membaca-baca blog teman. Waktu terlalu cepat berlalu. Hari ini saya rasa sangat indah dan terlalu sayang untuk cepat berlalu. Malam ini, berhubung saya sedang berada di desa, saya hanya ingin 'melek' lebih lama, dan menikmati sisa-sisa bahagia di hari yang penuh tawa ini. Ada sedikit rasa takut akan hari esok, karena hari esok ada kesibukan dan kemungkinan besar tidak akan sama dengan hari ini. Kemungkinan esok ada kesusahan, karena demikianlah firasat mengatakan. Kini, saya mengulur kemungkinan itu; menikmati kebahagiaan, kedamaian, dan kehangatan jiwa yang bersemayam di hati.

Lihatlah Cakrawala

Sore ini saya pulang ke Blitar lagi untuk menyelesaikan urusan menyebalkan dengan si polisi gila. Saya berangkat sendiri. Syukurlah langit cerah sepanjang  jalan, sehingga kali ini saya berkesempatan menikmati pemandangan sore hari yang amat sangat jarang saya temui, sambil melaju pelan dengan diiringi musik-musik syahdu. 
 Ketika memasuki wilayah kabupaten Blitar, ada perasaan yang berbeda. Hati saya dipenuhi kedamaian dan kehangatan yang tak terkira ketika melihat cakrawala yang sedang penuh dengan kilau cahaya jingga keemasan di barat. Jalan mulai tampak gelap dan lampu-lampu di pinggir jalan menyala. Di tepi jalan, ladang padi yang luas tampak bergelombang tertiup angin, seperti ombak di pesisir. Kegiatan-kegiatan orang di penghujung hari mulai tampak. Penjual gorengan yang bersiap-siap, lalu-lalang para ayah yang menggandeng keluarganya, anak-anak berangkat mengaji, dan jalanan yang penuh dengan truk dan bis yang sibuk mengejar waktu; semuanya tampak jelas dan mengena di hati, sehingga saya mengingatnya hingga sekarang. Sunyi & syahdu! Sore ini sungguh terasa damai sekali. Serasa, saya sedang berjalan menuju rumah Tuhan. Damainya tak terkira!
Saya membentangkan tangan kiri, membiarkan telapaknya menyentuh ilalang di tepi jalan. Sapaan alam! Cara alam menyampaikan hadiahnya sungguh menakjubkan. Kedamaian, itu hadiahnya. Rupanya sore ini alam menyambut kedatangan saya, si petualang ini, dengan keindahan sederhananya yang memukau.


Minggu, 06 April 2014

Sibuk

Segala tugas-tugas yang mengurung pikiran minggu ini telah selesai. Saya melembur tiga malam untuk mengerjakan semua itu. Kemarin, saya menikmati keberhasilan atas selesainya essai yang sangat menyebalkan. Segala kesibukan yang lalu rupanya menjauhkan saya pada hal-hal yang lebih penting: keluarga! Seharusnya ada waktu untuk menelepon ibu dan berbincang-bincang lama, seperti hari-hari normal. Tidak sepatutnya saya sibuk sedemikian rupa; mengerjakan sesuatu yang sangat menjengkelkan dan meninggalkan rutinitas hidup biasanya. Jujur saya tidak menyukai tugas tengah semester itu. Everybody also does not like that. Tugas bagaikan rantai besi yang mengikatmu. Rasanya seperti dikendalikan. Ketika dikendalikan, tidak ada banyak waktu untuk kehidupan pribadi.

Selasa, 01 April 2014

Casablanca Again

 Minggu ini ada banyak tugas dan presentasi. Ada banyak hal yang harus diselesaikan. Saya harus menulis essai berisi minimal 1700 kata, presentasi di hari Rabu dan Jum'at, menyelesaikan karya puisi, dan mengerjakan kira-kira dua tugas dari dua mata kuliah berbeda. Saat menulis posting kali ini pun pikiran saya tidak sepenuhnya tenang. Dengan bantuan secangkir kopi hitam, pisang goreng, dan iringan instrumen Ballad Pour Adeline, saya bisa rileks sedikit. Ohya, semangat juga datang karena tidak lama tadi saya melihat foto-foto Casablanca; foto-foto saat ia jalan-jalan bersama sahabat-sahabatnya.
Casablanca menawan sejak dunia memperlihatkan dia kepada saya, semenjak masa ospek fakultas dan universitas. Kami berkenalan, kemudian seterusnya hanya berkomunikasi lewat pesan, dan itupun jarang. Kadang-kadang, kami bertemu langsung; di parkiran, di halaman gedung D, di lantai satu gedung Q3, dan di jalan, meskipun semua ini sangat jarang. Satu pertemuan seringkali membuat saya amat senang.
Ia kini aktif berorganisasi, sementara saya tidak ikut kegiatan apa-apa di kampus demi menekuni sesuatu. Saya sendiri tidak suka ikut organisasi. Maka, ya ini resikonya, saya jadi tak punya kesempatan untuk menjadi salah satu bagian dari hari-harinya. Ah, sekali lagi; karena perasaan tak punya apa-apa, saya tak ada cukup nyali untuk melakukan sesuatu untuk hal ini. It's just like Ebiet G Ade's song.
Hmm, saya pikir ini cukup sampai sekian. Ternyata waktu berlalu cepat sekali. Lima lagu sudah berlalu. Forever in Love mulai sampai pada nada-nada penutup. Saya kembali kepada tugas-tugas. Goodbye!!!
God bless You!