Minggu, 14 Desember 2014

Berkat

Saya berada di rumah setelah minggu-minggu yang berat dan penuh dengan tugas. Kali ini saya bisa lebih menikmati waktu di rumah, tidak seperti sebelumnya yang masih membawa embel-embel tugas. Pun demikian, saya masih mempunyai tanggungan tugas, namun itu tidak terasa begitu membebani; mungkin akibat pandangan sebelah mata pada mata kuliahnya, atau akibat setelah menyelesaikan tugas-tugas berat sehingga yang masih belum selesai jadi terlihat tidak penting. Haha, anyway saya bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik dan di pagi ini, ada doa lingkungan yang kebetulan gilirannya rumah kami sebagai tempat. 
Saya mengunggah satu bagian* dari serangkaian kegiatan pagi tadi di BBM (foto makanan) dan banyak teman yang merespon. Ada yang bilang "Uenaknya", "Jadi pengen," dan pertanyaan biasa seperti "Ndek rumah ada doa to Sep?". Dari semuanya, ada satu yang berkesan, yakni dari salah satu teman saya di Malang. Begini, katanya, "Oh gitu haha enak ya pas kamu pulang pas ketepak an giliran di rumahmu hihihi how blessed you are..". Kata-kata teman ini mengingatkan saya pada hal yang sama, yang juga dikatakan nenek. "Dapat berkat lagi, Sep. Pas kamu pulang selalu ada selamatan, entah dari rumah sini sendiri atau tetangga; selalu penuh berkah pas kamu pulang, le," demikian kalau saya rangkum dan terjemahkan ke bahasa Indonesia, haha. Benarkah demikian? Saya dengan senang hati bersyukur bila memang demikian. 
Berkat; ini adalah istilah jawa di daerah saya untuk makanan dari suatu selamatan atau syukuran. Saat saya pulang ke rumah dari Malang, rumah kami selalu mendapat berkat. Saat saya pulang, selalu ada berkah, demikian katanya.

*setiap sehabis ibadah ada acara makan-makan

Minggu, 30 November 2014

Bapak Darto yang Terberkati

Menghadiri misa di Sabtu sore yang mendung namun tidak hujan sedikit terasa berbeda untuk saya, sebab sudah dua miggu saya tidak ke gereja. Dan kali ini, saya menghadiri misa di kota saya ini. Selalu ada kerinduan besar akan gereja tua itu, meskipun para imam datang dan pergi dan sedikit yang saya kenal sekarang, namun jemaatnya tetap; saya mengenal mereka.
Seperti biasa, tempat duduk di belakang menjadi favorit. Nah, disini saya bertemu pak Darto, guru matematika waktu saya kelas tiga SMA. Beliau sudah sangat sepuh, namun wajah cerianya tak pernah pergi. Saya sedikit heran karena biasanya beliau duduk di depan, dan ketika saya bertanya mengapa kok tumben duduk di belakang, beliau menjawab sambil tersenyum, "kalau dulu saya sama istri saya, sekarang sendiri." Istri pak Darto meninggal pada 30 Oktober yang lalu. Setelah mengetahui hal ini, saya merasa tidak enak dan bingung harus mengobrol tentang apa lagi, namun beliau dengan wajah sumringah-nya tetap mengajak saya bicara tentang hal lain yang menyenangkan. Di akhir misa, pak Darto berdoa singkat, lalu setelah itu berpamitan pulang duluan sambil mengucapkan "semoga sukses" kepada saya.

Perjumpaan dengan pak Darto membuat saya terharu. Kini beliau sudah tua dan sendiri, namun tetap menghadiri misa dan bersikap ceria dan ramah. Kini beliau duduk di bangku belakang, bangku pilihan bagi (agak) banyak kaum pria yang ke gereja tidak bersama istri, atau pacar dan bagi mereka yang masih lajang, bangku pilihan untuk menyaksikan lebih luas perayaan rahmat Tuhan.
Kini saya berdoa agar pak Darto selalu sehat dan agar beliau tidak kesepian. Untuk semua kebaikan yang beliau telah berikan, semoga rahmat kedamaian menyertai sehingga kepenuhan hidup menjadi milik beliau.
Amin.

Sedikit Berbahagia

Disamping terharu dan berdukacita, saya juga sedikit berbahagia karena seseorang. Di akhir-akhir ibadah, seraut wajah dari bangku kiri gereja merebut perhatian saya. Diantara wajah-wajah lainnya, ia yang paling bersinar. Putih, lembut, dengan laku gemulai ia menebarkan keanggunannya. Seperti Arwen, putri elf dalam trilogi The Lord of The Rings; ia bagaikan bidadari, yang kecantikannya tidak bisa dibandingkan dengan wajah-wajah lain. Saya merasa seperti memandang salah satu keajaiban dunia di eropa. Begitu kagum dan terpesona, seperti mengeluarkan nafas panjang setelah menariknya dalam-dalam. 
Di akhir misa, saya mencoba mencari wajahnya diantara keramaian, dan tak menemukannya. Namun, ketika sudah di jalan raya mengendarai motor, saya melihatnya berjalan bersama seorang temannya di trotoar. Saya menolehkan wajah kearahnya, dengan pikiran ia akan melihat saya balik dan mengingat saya lagi apabila di lain waktu saya ke gereja itu mengenakan jaket jeans yang sama. Pemikiran yang konyol, muingkin. Namun siapa yang tahu kalau ia masih belum berpacaran dan ada kesempatan untuk saya? Saya akan mencoba.

Demikian indah dan aggun seraut wajah itu, membangunkan hati saya yang sudah lama kosong tidak memikirkan siapa-siapa. Saya ingin melihatnya lagi, mungkin minggu depan ia duduk di bangku yang sama, mungkin pandangan kami bisa bertemu satu sama lain.   

Sedikit Mengeluh

Tugas-tugas di akhir semester membuat saya gelisah. Di sore hari yang indah ketika nenek dan kakek saya tengah bersantai dan menikmati sejuknya pemandangan setelah hujan, saya sibuk sendiri mengerjakan tugas. Seharusnya saya bergabung dengan mereka, namun jika saya tinggalkan proses merangkai ide menjadi tulisan, akan sulit untuk melanjutkan lagi. Jadi saya terus berkonsentrasi sambil sesekali ikut obrolan mereka. Tidak mudah memang; ketika sedang sibuk dengan urusan kuliah namun berada di dekat orang-orang tercinta dan ingin terus bercengkrama dengan mereka.

Rabu, 26 November 2014

Tugas Akhir

Memasuki masa akhir semester lima, tugas-tugas akhir lumayan banyak. Saya kadang bingung bagaimana membagi waktu untuk semuanya itu. Namun kali ini saya tak begitu banyak ambil pusing dan mencoba mengerjakannya satu persatu seperti mengerjakan tugas biasa, tanpa tekanan besar. 
Di ujung semester, pentas drama menanti, kemudian di depannya lagi ada liburan natal. Tak ada ekspetasi besar untuk liburan natal kali ini sebab sesuatu hal yang baik dan tidak diharapkan, tetapi justru terjadi, akan menjadi kejutan dan kebahagiaan tersendiri. Ohya, namun sayang sekali libur kali ini menjadi lebih pendek. Tidak tahu mengapa pihak universitas menjadikan libur setelah tahun baru menjadi lebih pendek, yakni cuma sampai tanggal 4. Kecewa pasti, namun saya tak begitu memusingkan hal itu, toh di tahun-tahun sebelumnya saya sudah menikmati enaknya menikmati libur semester UM. Selain itu, sudah sebentar lagi lulus. Oh my God! Ini yang saya khawatirkan: perpisahan. Kawan tahu sendiri, saya tidak suka perpisahan, seperti kebanyakan orang. 


Hm. Disini saya terhenti. Rasanya tidak enak berbicara jauh tentang hal itu. Baiklah sampai disini.
Salam!

Minggu, 09 November 2014

Malang dan Hujan

Malang dan hujan menyimpan banyak kenangan pada tahun-tahun yang silam. Ketika kemarau mengusir penghujan, kehidupan di kota menjadi terasa lebih padat dan ramai. Jalanan berdebu dan kering, namun matahari selalu bersinar sepanjang hari dan menjanjikan kehangatan yang berlimpah ruah. Kini, musim penghujan telah kembali. Pada masa-masa yang sudah berlalu, pengalaman saya tentang hujan kebanyakan tidak menyenangkan dan apes. Mungkin karena tempat tinggal saya yang jauh dari perkotaan sehingga sering kehujanan ketika pulang dan pergi dari/ke tempat beraktivitas. Mungkin juga karena saya sendiri tidak memaknai hujan itu sendiri sebagai sesuatu untuk disyukuri. Sekarang, berhubung saya sudah dekat dengan pusat kegiatan sehari-hari, mungkin di musim penghujan kali ini ada banyak hal berkesan untuk disyukuri. Mungkin juga, musim kali ini saya semakin mencintai hujan, seperti selayaknya orang-orang yang selalu bersyukur. Bagaimanapun, pengalaman pertama melihat hujan di kota Malang ini, tepatnya pada Jum'at yang lalu, adalah pengalaman yang berkesan karena saat itu saya berkumpul bersama teman-teman dan itu menyenangkan.
Hujan, hujan; puji Tuhan, sudah hujan!

Rabu, 05 November 2014

Keinginan Tercapai, Bukan Main

Keinginan ke Bromo sudah tercapai. Betapa senang menyadari saya berada di tempat saya lagi dan telah melewati berbagai medan sulit di alam serta melihat pemandangan-pemandangan yang menakjubkan. Senang bukan main mengalami petualangan yang menantang dan mengasyikkan seperti itu. 
Senang, itu intinya. Satu hal yang dapat dipetik dari hal ini ialah soal keinginan itu sendiri. Mewujudkan keinginan ialah salah satu hal yang paling indah di dunia ini. 
Ya, begitulah. Mungkin anda setuju.
Cheers!