Jumat, 06 Juni 2014

Ibadah

IMG here
Mungkin jika seseorang hidupnya sedang berantakan dan tidak tenang adalah akibat dari melupakan waktu untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta. Mungkin jika seseorang selalu merasa kurang beruntung dalam hidup ini, atau merasa buntu setiap hari, itu karena kurang beribadah, kurang shalat. Ibadah adalah salah satu inti dari hidup ini. Mungkin kebanyakan orang juga berpikir demikian. Kedekatan dengan Sang Pencipta mendatangkan banyak berkah dalam hidup. Semoga si pengembara dan siapa saja yang saat ini jauh bisa kembali dekat dengan Dia yang memberi kehidupan.
Amin.

Kamis, 05 Juni 2014

Dibalik Senyum

Jangan tersenyum padaku
Jangan berlaku baik
Jangan lakukan itu
di depanku, sedang
dibelakang kau berbisik
cerca, cela, kekecewaan
Jangan tersenyum padaku
Jangan lakukan itu,
percuma, semua palsu!

Pertama-tama, biarkan saya menegaskan dulu bahwa ini tak ada kaitannya dengan kesulitan tentang kos seperti yang tertulis pada postingan-postingan sebelumnya. Ini tentang hal lain.

Saya tak dapat mengatakan banyak hal tentang kekecewaan saya pada saat ini. Sebuah pengkhianatan, kalau saya boleh menyebutnya. Orang-orang berlaku baik pada keluarga saya saat saya di rumah. Mereka ramah sekali, menyapa dengan senyum dan berbicara dengan canda. Namun, ketika saya tidak ada, mereka mengatakan banyak celaan dan omong kosong tak berguna pada ayah. Itu semua bertujuan agar ayah tak mempedulikan saya dan adik lagi karena sudah tidak bersamanya.
"Untuk apa bejuang keras demi membiayai sekolah anak-anakmu. Ketimbang sekolah dan kuliah, seharusnya mereka bekerja" demikian kata orang. Ayah sendiri menceritakan ini pada ibu. Ibu menceritakannya pada saya. 
Tanggapan pribadi tentang komentar mereka?
Kalau ayah berpikir mereka omong kosong. Sayapun demikian. Namun yang sangat saya sayangkan adalah kepalsuan dari kebaikan-kebaikan mereka. Di depan, mereka memuji-muji, namun di belakang mereka melempari keluarga saya dengan cela agar runtuh.
Saya tidak membenci mereka dan yang terpenting bagi saya adalah kebangkitan keluarga itu sendiri. Tak peduli kata orang; hanya pada kebahagiaan pribadi dan orang-orang yang berarti.
Tuhan memberkati. Amin.

Beban

Akhirnya semua orang mengatakan titik kepada saya tentang kos. Titik, demikian kata mereka. Mereka bilang saya anak yang tidak punya kasihan pada orangtua. Mereka juga berkata saya malas dan hanya menyusahkan. Budhe saya mengisyaratkan saya untuk tinggal di rumahnya di Batu, agar tidak membebani orangtua lagi.
Ya, orangtua saya memang tidak berkecukupan. Saya sendiri sebenarnya sudah mempertimbangkan dengan baik semuanya. Hanya saja, mereka tidak percaya pada saya. Mereka takut kalau saya ngekos, disamping akan menyusahkan orangtua, juga akan menjadikan diri saya mudah terseret pengaruh-pengaruh. Oh please! Orang-orang ini memang tidak akan pernah memercayai saya; dari dulu! Saya masih ingat contohnya, ketika mendaftar SNMPTN untuk masuk perguruan tinggi dulu, mereka berpikir saya hanya akan menemui kegagalan (mereka sendiri mengatakannya), namun pada akhirnya saya lolos.
Bagaimana kelanjutannya, saya tidak tahu. Hanya pilu dan bimbang menyelubungi pikiran. Saya kini jadi kasihan pada ayah. "Memang betul saya hanya membebani," kata-kata inilah yang kini menghancurkan hati saya.  
Namun tentu saya tidak akan diam dan tidak berusaha. Ini adalah tantangan dan akan sangat membanggakan jika saya menemui solusi brilian.  Well, a tough struggle strats here.

Sulitnya

Keinginan untuk ngekost rupanya masih saja menemui halangan. Ibu saya kemarin menelepon dan menyarankan saya untuk tinggal di sang timur jalan bandung, karena setelah bilang ke biarawati pemimpin bahwa saya sudah keluar, ia disarankan untuk membujuk saya supaya tinggal di tempat itu. 
Saya tak menjawab dengan banyak kata. Saya hanya geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, saya sudah keluar dari tempat biara dan kini diminta untuk tinggal di biara lainnya. Biara? Susteran? 
Please!
Saya tak akan menuruti saran biarawati itu.
Entah mengapa, untuk hidup normal dan bebas saja sulitnya minta ampun. Namun saya tetap maju, meskipun orangtua tidak mendukung samasekali.
Hmm. Saya benar-benar labil saat-saat ini. Mungkin ini saat yang tepat untuk segera melakukan hal-hal berguna untuk menghilangkan segala penat dan beban pikiran.

Gl Is Over

Selamat tinggal GL Max, motor tua yang dulunya saya idam-idamkan, namun sangat mengecewakan ketika saya memilikimu! 

Ada banyak hal buruk yang menimpa saya ketika bersamanya. Minggu lalu, dalam tujuh hari saja saya harus membawanya ke bengkel dua kali. Piss off! Kecelakaan pertama saya dengan kendaraan bermotor adalah dengan si GL ini pula. Saya jadi jarang keluar semester ini karena takut motor mogok. Bersama motor itu, saya sering tertimpa hal buruk; sangat menyebalkan.
Disamping pengalaman buruk, ada beberapa pengalaman baik, misalnya mengajari Stanley mengendarai motor berkopling, pergi ke pantai bersama kawan-kawan kuliah, dipakai keliling-keliling kota Malang di malam hari, mengantar beberapa gadis (hehehe), dan memenangkan beberapa balapan. Hoho tapi yang terakhir tidak sungguhan. Bukan balapan di lintasan melainkan balapan di jalan raya biasa dengan pengendara lain yang menantang. Ngomong-ngomong kalau mengingat masa itu saya ngeri. Kini saya tidak berani lagi berkendara dengan kecepatan tinggi semenjak kecelakaan yang lalu.

Masa gl max telah beralu, semoga ini jadi satu indikasi hidup saya perlahan berubah kearah yang lebih baik dan layak.

Rabu, 04 Juni 2014

Kepindahan

Hari ini hari terakhir saya tinggal di tempat ini. Saya keluar untuk menjalani hidup baru dengan pengalaman-pengalaman baru. Dua tahun bertahan di tempat sepi dan terpencil rupanya telah menghancurkan hati saya, meskipun kerapkali dalam keheningan saya mendapatkan kedamaian. Bukan sepinya, melainkan keterpencilannya dari peradaban. Inilah yang meremukkan saya. Pun demikian, saya bertahan terus karena orangtua. 
Maka akhirnya saya sedikit memberontak. Dan ini tepat sekali. Situasi dan kondisi di komplek ini sedang dalam masalah besar. Karyawan-karyawan keluar satu persatu karena ketidakcocokan dengan sikap pemimpin baru yang terlalu kaku dan otoriter. Saya sendiri tidak suka karena ia terlalu formal. Saya tidak suka melakukan hal-hal tidak penting yang hanya untuk sekedar formalitas. Menghormatinya selalu dengan tutur kata baik dan halus dan membungkuk dengan cara tertentu, serta laporan setiapkali pulang kuliah; oh no! Itu mimpi buruk. Saya tidak melakukannya! Samasekali.
Karena hal-hal tersebut, orangtua saya setuju saya pindah. 
Maka setelah berpikir panjang akhrinya saya putuskan untuk pamit keluar. Mungkin setelah ini saya akan ngekost. Dengan hidup di kost, saya akan lebih dekat dengan gereja, dekat dengan teman-teman, dan dekat dengan peradaban.

What Now?

Bunga yang wangi semerbak berwarna putih, casablanca, telah dipetik. Bukan si pengembara yang selalu meliriknya, melainkan insan lain yang punya kebiasaan sangat rutin setiap harinya mendekatinya. Jadi, selanjutnya apa untuk si pengembara?
Rupanya ia telah terlalu lelah dengan kekalahan. Jiwanya terlalu banyak kehampaan dan gelap gulita. Ia sendiri sudah terlalu banyak bersedih karena ditinggalkan harapan. 
Seseorang menanyainya,
"Bagaimana perasaanmu? Melihat dirimu sendiri beberapa kali seperti itu?"
Pengembara menjawab,
"Entahlah. Saya lelah dengan hidup saya yang gelap. Saya hendak memulai yang baru, dengan diri yang baru, serta pembawaan hati yang baru pula."
"Mengapa berkata demikian?" Tanya orang itu lagi.
"Kau tahu, saya perlu lebih banyak aktualisasi diri. Mengapa saya harus mengharapkan sesuatu dengan mengorbankan perasaan? Mimpi-mimpi saya disana, jauh di depan. Tanggungjawab saya disini, di bahu kanan dan kiri. Semakin jauh saya melangkah, semakin besar tanggungan ini. Saya seharusnya jadi pria berhati singa, seperti Richard, atau berhati keras sekeras batu dan sedingin es. Saya berharap dan berusaha menjadi demikian karena memang hendaknya demikianlah hati seorang pengelana; hati seorang pria."
 "Saya mengerti," kata orang itu. "Kita seharusnya mengejar mimpi-mimpi kita dan fokus pada hal-hal itu. Mimpimu sangat simple, bukan? Kau mungkin hanya perlu sedikit fokus, maka akan kau raih semuanya," sambungnya.
"Benar. Terimakasih, sahabat!" jawab si pengembara.