Minggu, 27 September 2015

Awal Skripsi

Akhir-akhir ini kesibukan saya adalah skripsi. Sejauh ini yang telah selesai adalah bab 1. Sebenarnya bisa saja bab 2 selesai namun karena harus ganti topik saya memulai dari awal lagi demi menghindari resiko buntu di tengah jalan. Semester ini hanya ada sedikit kuliah karena saya selalu mengambil jatah di setiap semester sehingga hanya tersisa dua mata kuliah yang kegiatannya di dalam kelas. Dua lainnya adalah magang yang telah selesai itu dan skripsi sekarang ini. Karena hanya ke kampus dua kali seminggu, jadinya saya sering pulang ke rumah karena sedikit aktivitas yang dapat dilakukan di kos. Meskipun kos saya menyediakan wifi yang super cepat, namun setiap akhir pekan rasanya selalu ingin pulang. 

Di rumah sekarang kami mememelihara kucing yang diberi nama Kiwa oleh bulek saya dan kucing ini menggemaskan. Setiap kali sudah di Malang untuk beberapa waktu lamanya biasanya saya akan kangen sendiri dengan kucing ini. Jadi mungkin Kiwa adalah alasan besar mengapa saya kangen untuk pulang setiap akhir pekan. Alasan kedua adalah ingin makan dengan layak, hehe. Bukan bermaksud mengatakan saya tidak makan layak setiap harinya di kos-kosan, namun rasanya masakan desa lebih lezat daripada yang dijual di warung manapun di Malang. Selain itu, disini saya tak perlu mengeluarkan uang banyak ketika ingin membeli makanan di warung yang enak. Alasan selanjutnya mungkin adalah ingin melihat seseorang di gereja sore di paroki Blitar. Jadi setiap Sabtu sore saya sengaja jauh-jauh ke gereja (istilahnya) pusat di Blitar. Saya lebih suka ibadah sore daripada pagi, jadi saya harus ikut ibadah disana. Seperti biasanya, saya duduk di deret belakang kanan, dan biasanya pula ia di deret kiri agak ke depan. Hari ini saya melihatnya sudah berbeda. Rambutnya pendek kira-kira sebahu dan diikat; membuatnya tampak lebih ceria dan lincah. Ini adalah gadis yang sama seperti yang saya share di posting lain dahulu dan mungkin tampak seperti ironi, bagaimana saya tak kunjung berkenalan dengannya. Namun, bukannya tidak berusaha, tapi karena saya bulan-bulan terakhir lebih sering di Malang ketika akhir pekan, jadi perlahan pada akhirnya lupa sendiri akan hal ini. Hari ini, saya kembali terkesan dan akan memikirkan hal terbaik yang harus saya lakukan kedepannya. 

Jumat, 21 Agustus 2015

Saudara

Pagi ini saya dilanda kebingungan. Setelah mandi dan menyiapkan makanan untuk hari ini, saya tak tertarik melakukan apapun. Maunya mengerjakan laporan magang, tapi tidak ada mood yang baik untuk itu. Kalau sudah kebingungan seperti ini biasanya ujungnya adalah kesepian, dan begitulah jadinya tadi pagi. Saya bingung hendak pergi kemana. Akhirnya, sebuah pikiran yang tak terduga muncul, yaitu mengunjungi rumah retret di Jedong, Malang. Tujuan utamanya adalah bertemu dengan pak Salome. Ia adalah orang yang banyak membantu dan berjasa pada waktu saya tinggal disana. Ia adalah kawan yang baik dan berjiwa muda serta ramah. Keluarga pak Salome sudah menganggap saya seperti saudara sendiri. Sayapun demikian juga. Maka, rasanya sungkan sekali apabila lama tidak menjumpai mereka semua.
Siang ini, saya disana terus dari jam 11 hingga jam 5. Selain pak Salome, saya juga bertemu karyawan-karyawan lain yang dulu juga sering membantu saya. Menggembirakan, demikianlah kesannya. Saya telah mengenal orang-orang baik di Malang ini, yang sudah menganggap saya bagian dari keluarga mereka. Maka, sangat menyenangkan bisa berkunjung dan bertemu dengan mereka semua. Saya tidak akan melupakan mereka semua dan akan terus berkunjung, sebab sekarang mereka adalah saudara.

Lagu Memorable

"Tiada nada, tiada suara
mampu mengungkapkan rasa
bahagia tak terkira
Tiada sungai, tiada samudera
mampu tandingi agung cinta-Mu
lembut hatimu ubah hidupku"

Ini adalah salah satu lagu kesukaan saya. Judulnya adalah "Karena Aku Kau Cinta." Lagu ini selalu membuat saya teringat akan momen bahagia ketika masih di asrama bersama teman-teman. Dulu, saya sering menyanyikan lagu ini ketika ikut bertugas paduan suara. Itu adalah masa yang sangat membahagiakan. Bagi saya lagu ini adalah sebuah ungkapan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati itu sendiri adalah sukacita bersama orang-orang yang saya cintai, keberhasilan melewati tantangan besar, dan kedamaian hati karena dekat dengan Tuhan. Setiapkali saya menyanyikan lagu ini, momennya selalu pas, yakni ketika saya berkumpul dengan para sahabat, ketika sudah lulus, dan pada hari-hari yang penuh dengan berbagai event dan perayaan besar. Lagu ini benar-benar memorable!

Kamis, 20 Agustus 2015

Pindah Kos Lagi


Kos yang indah hancur dalam 3 hari
Saya pindah kos lagi. Kos yang nyaman dan tenang itu kini telah dibeli oleh seseorang pada awal lebaran lalu dan ia merubuhkan bangunannya bahkan ketika saya dan yang lainnya masih tinggal di tempat itu. Sebenarnya kami diberi waktu hingga tanggal 20 Agustus, namun pada tanggal 14 ia sudah menyuruh tukang-tukangnya membongkar bangunan itu. Setelah itu ia berkata bahwa tanggal 15 kos harus sudah kosong. Maka dengan bekerjasama dengan penghuni lain, cepat-cepat saya segera memindahkan barang-barang saya di kos yang baru. Kami menyewa kendaraan pick-up agar cepat dalam pindahan satu hari itu.
Malam-malam mengambil sisa-sisa barang yang ketinggalan.

Di malam-malam sebelumnya saya dan teman-teman kos sering berkumpul. Saya merasa senang bisa lebih akrab dengan mereka namun juga sedih karena akan berpisah dan tidak satu kos lagi.

 Kami semua sangat menyesali pemilik kos menjual tempat nyaman dan tenang itu. Kami juga jengkel dengan si pemilik baru yang seenaknya dan tidak menepati janji. Bagaimanapun, ia punya uang dan kuasa. Hal terbaik adalah pindah secepatnya agar terhindar dari suara-suara bising pembongkaran bangunan itu.

Sekarang saya tinggal di kos-kosan yang serumah dengan keluarga pemilik kos. Ini pertamakalinya saya ngekos seperti ini. Jadi, sekarang saya tidak sebebas dulu. Namun yang terpenting bagi saya adalah kenyamanan dan ketenangan dan kos ini sangat berpotensi untuk menjadi demikian.

Begitulah kawan! Memang seringkali peristiwa-peristiwa tak terduga datang menghampiri. Hal ini bisa menjadi sesuatu yang menyusahkan atau bisa juga menjadi kejutan yang membawa banyak kebaikan bagi kita.

Semester 7

Tidak terasa sekarang sudah memasuki semester 7. Ini berarti skripsi sudah di depan mata. Saya sendiri merasa siap-siap-nggak-siap. Rasanya tidak terasa tiga tahun sangat cepat berlalu; terlalu cepat. Bagaimanapun ketika waktunya sudah tiba maka hal yang menjadi kewajiban pada waktu itu harus dilakukan. Saya sendiri bukan pertamakalinya menghadapi hal semacam ini. Anda pasti juga lumayan sering mengalami hal yang sama; misalnya perpisahan dengan teman SMA. Ketika menjadi siswa kelas tiga di akhir semester, pasti rasanya berat meninggalkan teman-teman dekat di kelas. Atau, mungkin berat sekali rasanya meninggalkan zona nyaman sekolah dan menjadi lebih harus mandiri sebagai mahasiswa. Hal-hal semacam ini seringkali saya pikirkan ketika merasa tidak siap dan ragu. "Saya sudah menghadapi hal yang serupa sebelumnya, dan sekarang meskipun merasa tidak siap, saya yakin saya akan berhasil dan kesiapan itu sendiri akan dibentuk oleh proses," demikianlah kata-kata saya sendiri untuk memotivasi diri. Jadi akhir kuliah ini adalah hal "akhir" yang serupa dengan apa yang pernah saya alami.

Bagi anda yang juga menjalani masa-masa akhir kuliah, tetaplah enjoy dan woles! Lulus tidak harus tepat waktu, tapi pada waktunya! Hehe, ini bukan kata-kata saya tetapi semoga dapat menyemangati anda!

Minggu, 10 Mei 2015

Akhir Semester 6



Semester 6 ini mungkin semester yang paling berat dibanding semester lainnya. Dulu sering sekali ada keluhan tentang tugas, namun itu semua tidak ada apa-apanya jika dibanding semester ini. Ada 8 mata kuliah yang diajarkan dua dosen dan semua tugas akhirnya ialah essay. 2000 kata untuk masing-masing tugas dari dosen A, dan 4-5 halaman essay dari dosen B. Tanggal 8 yang lalu adalah pengumpulan terakhir tugas-tugas tersebut dan saya lega sekali dapat mengerjakan semuanya dengan baik.
Sekarang setelah selesai semester 6, saya dan semua teman sekelas akan menjalani masa magang (KKN) selama 6 minggu. Itu 5 hari lagi dan berarti masih ada sedikit waktu untuk berekreasi kecil sebelum menghadapi ujian lainnya itu. 

Saya tidak begitu peka terhadap pergantian waktu; dan karena inilah masa-masa kuliah terasa terlalu cepat habis. Rasanya sedikit tidak menyenangkan, namun saya bersyukur karena masih bisa bebas. Hal ini berkaitan dengan apa yang seseorang katakan kepada saya beberapa waktu yang lalu.

Beberapa Waktu yang Lalu

Di teras rumah seorang wanita bercerita kepada saya tentang kehidupannya di awal-awal pernikahan. Ia tidak begitu bahagia, sebab kehidupannya sekarang jauh berbeda dari dulu ketika ia masih bekerja di Jogjakarta. Menikah kira-kira tahun lalu; wanita ini tidak pernah membayangkan bahwa ia akan harus hidup di desa. Sebelumnya, ketika kuliah, ia sering menjelajahi kota bersama teman-temannya dan berekreasi ke tempat-tempat yang menyenangkan. Setelah lulus kuliah, iapun masih di kota itu, bekerja. 
"Hidup di kota menyenangkan," katanya.
"Pola pikir orang-orang sudah maju dan kita bisa bergaul dengan siapa saja tanpa ada banyak norma dan prasangka-prasangka orang lain seperti di desa," tambahnya.
Kini keadaan sudah berbeda jauh dari apa yang ia miliki. Setelah bertemu seorang pria di kota kelahirannya (sepupu saya), dan menikah bersamanya, kehidupan yang menyenangkan di kota sekejap hilang. Ia harus melepaskan pekerjaannya dan tinggal bersama sepupu saya di desa; dan tak pernah bisa bertemu dengan teman-temannya lagi di kota. Ia juga mengalami kesulitan untuk mencari pekerjaan di tempat yang baru. Jadi sekarang ia hanya di rumah, dan masih beradaptasi dengan lingkungannya yang baru; proses yang sangat sulit, katanya. 
"Orang-orang di desa kolot pemikirannya; Mereka terlalu banyak norma; sehingga pikiran mereka tidak terbuka; Disini sulit sekali mencari seseorang yang bisa diajak bicara;" demikian tuturnya. 
"Jadi, apa yang mbak lakukan ketika begitu kesepian?" Saya bertanya.
"Ini," katanya sambil menunjukkan group chat yang ia buat di Line bersama teman-temannya. Setelah itu ia terus bercerita; saya hanya mendengar, karena ada banyak sekali uneg-unegnya dan hanya sedikit sekali waktu yang tersedia sebelum suaminya datang. 
Ia mengungkapkan bahwa sebenarnya ia ingin kembali ke kota lagi bersama teman-temannya, karena disana masih ada banyak lowongan. Namun, sayang sekali ia tak bisa karena sudah empat bulan mengandung dan terikat pernikahan. 
Ia juga berpesan kepada saya agar menikmati masa-masa kuliah, selagi di kota dan masih bebas. 

Setelah beberapa menit, akhirnya si suami datang dan ia menghentikan ceritanya. Kemudian mereka berdua ngobrol. Saya pergi ke dalam rumah.

Saya merasa turut bersusah hati atas apa yang dialaminya itu, namun saya tidak merasa enak jika mencoba membantu wanita itu karena mereka menikah beberapa bulan yang lalu. Saya juga tidak mau mengganggu kehidupan sepupu saya. Mungkin mendengarkan sharing nya itu saja sudah cukup membantu baginya.