Minggu, 09 November 2014

Malang dan Hujan

Malang dan hujan menyimpan banyak kenangan pada tahun-tahun yang silam. Ketika kemarau mengusir penghujan, kehidupan di kota menjadi terasa lebih padat dan ramai. Jalanan berdebu dan kering, namun matahari selalu bersinar sepanjang hari dan menjanjikan kehangatan yang berlimpah ruah. Kini, musim penghujan telah kembali. Pada masa-masa yang sudah berlalu, pengalaman saya tentang hujan kebanyakan tidak menyenangkan dan apes. Mungkin karena tempat tinggal saya yang jauh dari perkotaan sehingga sering kehujanan ketika pulang dan pergi dari/ke tempat beraktivitas. Mungkin juga karena saya sendiri tidak memaknai hujan itu sendiri sebagai sesuatu untuk disyukuri. Sekarang, berhubung saya sudah dekat dengan pusat kegiatan sehari-hari, mungkin di musim penghujan kali ini ada banyak hal berkesan untuk disyukuri. Mungkin juga, musim kali ini saya semakin mencintai hujan, seperti selayaknya orang-orang yang selalu bersyukur. Bagaimanapun, pengalaman pertama melihat hujan di kota Malang ini, tepatnya pada Jum'at yang lalu, adalah pengalaman yang berkesan karena saat itu saya berkumpul bersama teman-teman dan itu menyenangkan.
Hujan, hujan; puji Tuhan, sudah hujan!

Rabu, 05 November 2014

Keinginan Tercapai, Bukan Main

Keinginan ke Bromo sudah tercapai. Betapa senang menyadari saya berada di tempat saya lagi dan telah melewati berbagai medan sulit di alam serta melihat pemandangan-pemandangan yang menakjubkan. Senang bukan main mengalami petualangan yang menantang dan mengasyikkan seperti itu. 
Senang, itu intinya. Satu hal yang dapat dipetik dari hal ini ialah soal keinginan itu sendiri. Mewujudkan keinginan ialah salah satu hal yang paling indah di dunia ini. 
Ya, begitulah. Mungkin anda setuju.
Cheers!

Sabtu, 01 November 2014

Short Break Bromo

Hari yang panjang. Badan terasa lelah sekali setelah seharian berpetualang. Ya, ini adalah sebuah petualangan. Karena medan yang sulit, hal-hal baru, dan pemandangan-pemandangan alam yang menakjubkan, kami menyebutnya petualangan.

Teman-teman berkumpul di kost saya karena menghindari gagal bangun karena alarm dan supaya bisa berangkat bersama. Kami berusaha memanfaatkan waktu yang sedikit untuk istirahat, namun beberapa harus terjaga terus karena tidak bisa tidur. Mendekati pukul dua, kami bersiap-siap dan berangkat menuju tempat berkumpul di dekat monumen patung pesawat, Soekarno-Hatta Malang. Setelah semua siap kami berangkat. Jalanan kota tampak sepi sekali, kecuali pasar Blimbing yang sudah ramai dengan pedagang-pedagang. Jalan kami masih mulus, belum ada tantangan samasekali sebelum memasuki area pedesaan dan pedalaman. Berkelok, kelok dan menanjak, serta curam; kami beberapakali mengalami kesulitan karena tingkat kemiringan yang ekstrim. Namun, yang terdepan selalu menunggu yang jauh di belakang agar tidak terpencar. Ohya, selain ekstrim, udaranya sangat sangat dingin sekali. Apes sekali bagi beberapa dari kami yang menjadi pengendara dan tidak memakai sarung tangan. Dalam hal ini saya sedikit mendapat bantuan dari selembar halaman Jawapos yang saya jadikan windbreaker, menutupi perut dan mencegah masuk angin. 
Sementara jalan terasa semakin menanjak, udara semakin terasa dingin. Berat, namun kami tetap semangat, dan semangat ini muncul dari sebuah pemandangan menakjubkan di atas langit. Dibawah naungan pohon-pohon, bintang-bintang di langit tampak begitu indah dan gemerlapan. "Rasanya seperti dekat sekali dengan Sang Pencipta," salah satu kawan berseru. Perjalanan semakin menantang, udara dingin semakin menyengat ke dalam, dan rombongan kami semakin bergembira untuk  segera menyambut fajar di Bromo. 
Sesampainya di daerah tengger, ada banyak hal unik, seperti orang-orang memakai selendang atau sarung dan berjalan menggendong keranjang, orang berkuda, dan wajah-wajah ramah penduduk lokal yang seolah tak terganggu dengan suara bising mesin motor kami. 
Setelah masuk pintu gerbang, jalan kami menjadi semakin sulit karena ini weekend dan banyak sekali orang di atas untuk melihat matahari terbit. Ada banyak sekali orang, baik bule, mahasiswa seperti kami, dan wisatawan lokal, sementara jalannya sempit dan ada banyak jeep diparkir di sepanjang jalan. Sulit dan berbahaya, pun demikian kami sampai di lokasi paling baik untuk menyaksikan Sunrise. Seperti orang pada umumnya, kami berfoto-foto hingga puas. 

Luas dan menakjubkan, bukan?
Amatir, hasil kamera ponsel
Dari kamera teman.

Terimakasih, kawan! Sayang sekali fotografer tidak ikutan.

Perjalanan Pulang
Kami pulang lewat Tumpang, sehingga harus melintasi lautan pasir dan mengelilingi dua gunung.  Di tempat itu, tantangan sebenarnya menanti. Pasir yang tebal membuat motor kami berulangkali hampir jatuh. Agak sulit bagi kami untuk menentukan arah, karena kendaraan-kendaraan yang menjadi patokan melaju sangat kencang sehingga tak terkejar. Untunglah tadi teknologi menolong kami. GPS dari tablet kawan kami menuntun perjalanan melewati hamparan pasir luas yang seperti tak berujung, melewati seorang pedagang minuman di tengah panasnya “gurun pasir” itu, melewati padang rumput kering yang hangus terbakar, melewati lembah hijau, hingga tanjakan-tanjakan curam dan berpasir. Pasir, badai pasir, dan tanjakan bepasir
, demikianlah tadi kami kesulitan. “Duh, aku kangen jalan beraspal, sep,” keluh seorang kawan  tadi. Sungguh berat memang, namun tadi juga ada keramahan-keramahan yang memberi semangat. Para pengendara kuda yang kami temui sepanjang jalan membalas sapaan kami dengan ramah, dan sesekali juga beberapa dari mereka menyapa lebih dulu. Mereka seperti menyertai jalan kami, hingga ke tanjakan akhir yang katanya adalah yang terberat. Dan.. sampailah kami di pos istirahat. Setelah menghabiskan beberapa menit di pos itu, kami pulang. Perjalanan pulang melewati jalan beraspal juga tak kalah menantang. Kami melawan rasa ngantuk dan terus berkonsentrasi sepanjang jalan.
Bentang alam menakjubkan, Indonesia!
Pada akhirnya, kami sampai. Beberapa kawan langsung menuju tempat mereka masing-masing, sementara dua kawan beristirahat di kost saya. Demikianlah; hari ini hari yang panjang, pun sangat menyenangkan. Saya tidak akan menolak untuk melakukan petualangan lainnya bersama kawan-kawan ini.




Harus berhati-hati ketika melepas helm atau masker karena
badai pasir datang tiba-tiba.

Luas membentang, indah pemandangan!
Dua kawan sedang bersusah payah melewati
hamparan pasir tebal yang sulit dilalui kendaraan bermotor.
Tampak pemandangan orang sedang mengendarai kuda di kejauhan.
Bagi mereka, lautan pasir tak menyulitkan samasekali, dan justru
dengan berkendara seperti itu mereka terlihat sangat menikmati,
meng-iming-imigi saya untuk naik kuda.













Sementara dua kawan lain
yang naik V-xion
tak terlalu susah melewati
medan yang
(kalau bahasa jawa
istilahnya) bledu.






Setengah perjalanan. Berapa lama
lagi? Tak tahu, yang jelas kita
harus memutari gunung-gunung.
Pengalaman pertama motor ini melewati medan berat adalah ketika menuju
lembah gunung Kelud. Namun saat itu yang dilewati adalah sungai dan
bebatuan. Kini, si motor harus melewati lautan pasir luas;
berulangkali terseok-seok, namun teman saya mulai terbiasa dengan medan
dan berkendara seperti orang-orang lokal. *Mereka melaju cepat sekali
sehingga tidak akan terseok-seok dan keseimbangannya terjaga.























Ohya, setelah meninggalkan Bromo, ada dua hal (pertanyaan) yang masih membuat saya heran dan bertanya-tanya. Pertama, saya heran dengan wanita yang berjualan di tengah padang pasir itu. Lho, bagaimana ya dia membawa barang-barang dagangannya? Apa diantar dan dijemput dengan sepeda motor atau jeep? Atau, apakah kalau sudah petang ia tinggalkan warung kecilnya itu dan pulang ke rumah? Ada banyak kemungkinan, saya tidak tahu. 
Yang kedua adalah bapak tukang bakso. Nahh.. ini nih. Darimana bapak ini berasal dan bagaimana bisa ia melewati medan berat yang kami lalui setelah berpapasan dengannya. Jalannya curam dan berpasir. Ini sulit sekali bahkan bagi motor yang tidak bermuatan selain pengendara sendiri. Kalau memang benar si tukang bakso melewati medan itu, wahh... sumpah itu keren banget! Namun, bagaimana nasib bakso dan mangkoknya? Haha, saya tidak tahu bagaimana, yang jelas akan nikmat sekali makan bakso setelah lelah melewati lautan pasir itu.

Tulisan saya kali ini mungkin ada banyak kesalahan dan minimnya variasi bahasa. Maklum, ya… karena saya sendiri sangat capek dan kurang berkonsentrasi juga karena ngantuk. Baik, sekian. Gracias multas! Terimakasih!
Salam!

Selasa, 28 Oktober 2014

Tentang Perhatian Sederhana

Hal sederhana yang seseorang lakukan untuk seorang lain kadangkala justru merupakan sesuatu yang luar biasa. Ini seperti apa yang dialami teman saya, sebut saja Ce. Ia berulangtahun beberapa hari yang lalu dan pada malam sebelum hari itu tiba, lebih tepatnya tengah malam pada saat pergantian hari, seorang kawan mengiriminya semacam voice note nyanyian "Happy Birthday". Tanpa iringan musik dan hal-hal meriah lainnya, ia menyanyikan lagu itu pelan dengan suara khasnya yang biasanya membuat teman-temannya gemas (karena seperti suara anak kecil, katanya).
"Happy birthday to you..
Happy birthday to you..
Happy birthday..happy birthday,
Happy birth....day..to..you..!"

Tampak sederhana apabila anda mendengar sendiri voice note itu. Namun, di dalamnya terpancar perhatian tulus seorang teman dekat kepada kawannya yang berulangtahun. Si Ce yang berulangtahun sangat bersukacita karenanya dan katanya (tadi siang) ia sempat menangis terharu saat mendapati kawan itu menjadi yang pertama yang memberi ucapan ulangtahun seindah itu selama hidupnya. Ohya, bukan hanya Ce saja namun juga beberapa teman perempuan lainnya menjadi terharu karena ucapan itu. Hebat! Saya beri jempol untuk yang menyanyikan ucapan "Happy Birthday" itu. 

Bagi saya sendiri, ini sesuatu yang menarik untuk menjadi contoh nyata tentang pesan yang hendak saya sampaikan, yakni tentang hal-hal kecil yang kita lakukan untuk orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin kita tidak menyadari bahwa hal-hal kecil dan sederhana yang biasa kita lakukan dapat mengubah seseorang, atau beberapa orang, atau bahkan banyak orang.
Ini seperti pengalaman saya sendiri; suatu hari saya sedang bersusah hati dan berkendara menuju tempat tinggal dengan raut muka sedih. Namun, di tengah jalan saya bertemu dengan beberapa kawan yang menyapa dengan senyum dan lambaian tangan yang ramah. Seketika itu juga, setelah membalas sapaan itu dengan senyuman juga, segala duka dan beban pikiran hilang. Lenyap. 
Nahh... tidak jarang lho hal-hal seperti ini saya alami. Such a simple thing, but a great encouragement. Mungkin anda juga mengalami hal yang sama, atau serupa tapi dalam pengalaman yang berbeda. Inilah. Hal-hal seperti inilah yang setiap orang mungkin perlu pahami, agar bersyukur atas dirinya dan lebih giat menjadi agen penabur keramahan.

Make the world a better place for you and me, with kindnessess!
Salam!

Rutinitas

Seringkali pada akhir dari akhir pekan (Minggu sore) pikiran langsung tertuju pada tugas-tugas untuk hari Senin. Kebanyakan teman mungkin juga demikian. Salah satu kawan di jejaring sosial menulis status sebagai berikut "kegiatan rutin tiap minggu malem," disertai dengan stiker orang stress dihadapan komputer dan tumpukan tugas, yang menunjukkan betapa lelahnya ia menjalani rutinitas di pertengahan semester ganjil ini. Saya juga demikian. 
Entah tugas itu berat atau ringan, rasanya tidak enak sekali berpisah dengan akhir pekan. Ketika kesibukan kuliah menyita waktu, tak ada kesempatan untuk saya mengunjungi ibu. Tidak ada waktu pula untuk aktualisasi diri. Seringkali saya mengeluhkan hal ini; ketika digempur tugas, tak ada waktu untuk berkarya dan belajar sesuatu yang lain, dan ketika tiba waktunya seluruh tanggungjawab dilaksanakan, rasanya tak ada tenaga tersisa untuk melakukan yang lain. Hanya ingin istirahat saja hingga pikran segar kembali dan tenaga pulih untuk gelombang kesibukan berikutnya. Demikianlah siklusnya. Entah hanya karena perasaan, atau memang keadaan, atau hanya mentalitas saya dan kurangnya kreatifitas, atau juga karena sedang tidak dalam mode bijak, segala rutinitas terasa sangat membosankan. 
Bagaimana ya? Saya mungkin perlu lebih kreatif lagi berada dalam situasi semester ini, yang konon katanya adalah puncak-puncaknya mahasiswa merasa sumpek. 
Untuk kawan yang mungkin juga sedang sumpek sekarang ini, semoga cepat menemui solusi agar tidak lama terjebak dalam situasi yang tidak nyaman.
Salam!

Sabtu, 11 Oktober 2014

Menjadi Bijak?

Kata Confucius, orang bijaksana tidak pernah bersedih. Saya setuju dengan perkataan ini, karena kadang-kadang merasakan kebijaksanaan tinggal dalam diri. Ketika sedang dalam mode bijaksana, tak ada satupun hal yang mengganggu. Meskipun penghuni kost sebelah saya sedang asyik membuat kebisingan dengan lagu-lagu yang biasanya mengganggu pendengaran, saya diam dalam ketenangan. Tak ada satu hal yang terpikir kecuali keutamaan. Suatu hal yang utama selalu menjadikan hati dan pikiran tenang. Lantas apa hal utama itu? Bagi saya, kadangkala itu adalah rasa cinta kepada keluarga. Kadangkala itu adalah rasa percaya pada Tuhan dan segala kehendak-Nya yang harus saya laksanakan demi kepenuhan hidup, seperti sebuah pepatah bahasa Latin yang kira-kira bunyinya begini; "Carilah keutamaan-keutamaan dalam hidup agar mendapat suatu kepenuhan berlimpah."
Nah ini! Nikmat sekali apabila kepala saya bisa senantiasa berpikir tentang keutamaan-keutamaan, bukannya tugas-tugas kuliah dan dosen yang galak melulu, bukan pula kebisingan penghuni sebelah yang tidak penting. 

Kesibukan Akhir-akhir Ini

Kesibukan saya sekarang ini adalah latihan drama. Kuliah hampir setiap harinya selesai jam enam sore. Kegiatan selanjutnya ialah latihan drama. Latihan ini berlangsung kurang lebih tiga jam. Biasanya pukul 21.00 saya dan yang lain baru bisa pulang meninggalkan kampus. Rutinitas ini berlangsung empat kali dalam seminggu atau sampai Kamis, sedangkan latihan drama itu sendiri sampai dengan hari Jum'at (hari Jum'at jam 12.30 kami mulai latihan hingga kira-kira jam 16.00). Saya sudah mulai terbiasa dengan jadwal ini dan akan menjalani semuanya selama satu semester penuh. Demikianlah tantangan untuk kira-kira empat bulan dimulai dari bulan September hingga bulan Desember yang akan datang.